Mari Membuat Perjanjian Penggunaan Gawai untuk Keluarga!



Di era digital ini, salah satu tugas penting orang tua adalah mendampingi anak menggunakan berbagai perangkat teknologi yang tersedia di sekitarnya. Beberapa waktu lalu digitalMamaID telah membahas salah satu panduan penggunaan gawai dan media bagi anak, baik usia balita maupun remaja. Namun, menerapkan aturan penggunaan gawai untuk anak memang bukanlah hal yang mudah. Mama mungkin sudah sering mengalami sulitnya mengatasi anak yang merengek atau mencoba bernegosiasi untuk main gawai lebih lama, bukan? Nah, salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menerapkan aturan penggunaan media secara konsisten adalah dengan menyusun perjanjian penggunaan gawai bersama anggota keluarga.

Ada beberapa istilah yang juga sering dipakai untuk menyebutkan perjanjian ini seperti family media plan atau family technology contract. Kesemuanya merujuk pada sebuah dokumen berisi aturan atau kesepakatan penggunaan gawai dan media yang ditandatangani oleh seluruh anggota keluarga yang berkepentingan.

Untuk anak yang lebih muda, dokumen ini lebih ditujukan untuk kedua orang tua dan orang lain yang bertanggung jawab mengasuhnya. Misalnya, Mama bisa menggunakan kata-kata "Saya hanya akan mengizinkan anak menggunakan gawai maksimal 30 menit setiap hari". Untuk anak yang lebih besar dan sudah mampu membaca, perjanjian ini dapat disusun dari sudut pandangnya sendiri. Sebagai contoh, Mama bisa menggunakan kalimat semacam "Saya tidak akan menggunakan gawai lebih dari 1 jam setiap hari di luar keperluan sekolah."

Apa saja isi perjanjian penggunaan gawai?



Berikut adalah beberapa hal yang dapat Mama gunakan untuk memulai diskusi bersama pasangan dan/atau anak-anak. Setelah dicapai kesepakatan, barulah poin-poin tersebut dicantumkan dalam perjanjian keluarga Mama. Tentu, panduan ini tidak bersifat mutlak dan sebaiknya disesuaikan dengan nilai-nilai keluarga dan perkembangan usia anak, ya.

1. Kepemilikan perangkat media

  • Milik siapakah gawai yang biasanya digunakan oleh anak? Milik pribadinya atau milik orang tua?
  • Bagaimana hak pengawasan orang tua? Bolehkah orang tua memeriksa perangkat sewaktu-waktu tanpa seizin anak? Apakah orang tua harus dimasukkan ke dalam friend list anak di media sosial?

2. Kapan, dimana dan berapa lama anak boleh mengkonsumsi media

  • Kapan saja gadget time diberlakukan? Apakah waktu mengerjakan tugas sekolah dibedakan dari menonton hiburan?

  • Berapa lama anak boleh memakai gawai setiap harinya? Apakah aturan di hari sekolah berbeda dengan di hari libur?

  • Kapan saja anak harus meninggalkan perangkatnya? Mama bisa menentukan zona bebas gawai seperti toilet dan ruang ibadah, juga family time seperti acara makan bersama.

  • Jam berapa semua bentuk media harus sudah dimatikan? Bolehkah perangkat dibawa ke tempat tidur di malam hari?

3. Keamanan

Mama sebaiknya mengajarkan terlebih dahulu berbagai resiko yang dihadapi ketika anak mulai menggunakan gawai, terutama untuk terhubung ke dunia maya.

  • Apa saja informasi pribadi yang tidak boleh dibagikan anak kepada orang lain tanpa seizin orang tua? 

  • Foto seperti apa yang sebaiknya tidak dipajang di dunia maya?

  • Apa yang harus dilakukan anak ketika menemukan sesuatu atau seseorang di dunia maya yang mengganggu, mengancam atau membuatnya tidak nyaman?

  • Bagaimana perilaku sehat dan aman ketika menggunakan berbagai media? Ajari anak terlebih dahulu tentang menjaga kesehatan mata di depan layar, keselamatan ketika berjalan dan berkendara (tidak sambil memegang gawai) dan perilaku sehat aman lainnya.

4. Konten

  • Konten apa saja yang harus dihindari anak? Pastikan anak memahami materi apa saja yang tidak boleh diaksesnya seperti kekerasan, pornografi, perjudian, atau penggunaan zat terlarang.

  • Apa yang harus dilakukan anak ketika menemukan konten yang terlarang? Ajari anak untuk mematikan perangkat dan segera meminta bantuan orang dewasa di sekitarnya.

5. Etika Online & Offline

  • Bagaimana etika menggunakan perangkat media ketika ada orang lain di sekitarnya? Misalnya, Mama dapat membahas bahwa mengobrol sambil tetap memakai gawai bukanlah hal yang sopan dilakukan terutama di depan orang yang lebih tua.

  • Bagaimana etika di dunia maya? Di poin ini Mama dapat mengingatkan anak untuk berkata santun, tidak menyebar berita tanpa memeriksa kebenarannya, juga menghargai privasi orang lain di dunia maya.

6. Konsekuensi

Jika anak melanggar peraturan yang telah disepakati bersama, konsekuensi apa yang akan dihadapinya? Pastikan anak memahami konsekuensi sebelum ia mulai diperbolehkan memakai gawai.

Kapan perjanjian perlu diperbarui?



Perjanjian penggunaan gawai sebaiknya juga direvisi secara berkala. Ada beberapa situasi yang pada umumnya menyebabkan Mama dan keluarga perlu mendiskusikan kembali kesepakatan tentang penggunaan gawai, diantaranya:

  • Ketika ada perangkat baru - Sebelum anak mulai menggunakan gawai baru, pastikan Mama mendiskusikan dulu aturan mainnya di awal.

  • Tahun pelajaran baru - Seiring dengan bertambahnya usia anak, kebutuhan dan keinginannya pun akan berubah. Karena itu, Mama perlu merevisi surat perjanjian dengan mempertimbangkan perkembangan mental dan sosialnya. Banyak orang tua yang memilih tahun ajaran baru sebagai momen untuk revisi, karena kebutuhan anak menggunakan berbagai media untuk mengerjakan tugas sekolah pun biasanya akan semakin bertambah setiap tahunnya.

  • Ketika anak menunjukkan perilaku tertentu - Apabila anak menunjukkan bahwa ia mampu bertanggung jawab dan dapat dipercaya, Mama boleh menambah haknya dengan aturan yang disepakati bersama. Misalnya, Mama bisa melonggarkan waktu pemakaian gawai atau mulai mengizinkannya mengelola akun media sosialnya sendiri. Sebaliknya, jika anak menunjukkan bahwa ia belum mampu mematuhi aturan, Mama bisa mengurangi beberapa haknya.

Seperti halnya ketika membuat perjanjian untuk pertama kalinya, setiap ada revisi sebaiknya setiap anggota keluarga dilibatkan, ya.

Contoh perjanjian penggunaan gawai

Berikut beberapa contoh referensi perjanjian penggunaan gadget sebagai inspirasi untuk menyusun dokumen ala keluarga Mama:

Demikianlah beberapa tips untuk menyusun perjanjian penggunaan gawai untuk keluarga. Dokumen ini dapat disusun sesuai kebutuhan. Mama mungkin merasa perlu menuliskan semua kesepakatan secara rinci, atau malah hanya mencantumkan garis besarnya saja. Tidak ada yang salah, selama semua anggota keluarga memahami apa yang diharapkan dari satu sama lain.

Setelah perjanjian disusun bersama-sama, tak ada salahnya dokumen ini dipajang di tempat yang sering dilihat di dalam rumah. Tujuannya tak lain agar setiap anggota keluarga selalu ingat dan konsisten menjalankannya. Jangan lupa juga untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak, ya.

Selamat berdiskusi bersama keluarga!

Post a Comment

0 Comments