Melindungi Anak dari Bahaya Predator Online



Salah satu bahaya yang mengancam anak-anak kita di internet adalah keberadaan para predator online. Predator online adalah seseorang yang mengeksploitasi anak secara seksual melalui internet atau secara langsung namun mengawalinya dengan interaksi di internet. Pelaku umumnya berusaha untuk mendekati korban secara bertahap serta mendedikasikan waktu, tenaga, dan uang untuk mendekati korban.

Keberadaan internet memang membuat para predator seksual anak dapat bekerja dengan lebih mudah. Mereka bisa menyembunyikan identitas asli, misalnya dengan cara membuat akun palsu di media sosial. Selain itu, adanya internet juga memungkinkan para predator untuk bekerja sama dengan cara membentuk grup atau forum diskusi untuk saling berbagi tips dan mencari korban.

Banyak anak berusia remaja yang menggunakan internet untuk mencari 'peer support' berupa dukungan atas beragam masalah yang mereka alami. Adanya media sosial, forum online, aplikasi messaging, atau game online dengan chat room yang digunakan oleh para remaja membuat akses pelaku terhadap calon korban menjadi terbuka lebar. Pelaku umumnya memanfaatkan keinginan korban untuk dihargai, dimengerti, mengambil resiko, dan mengeksplorasi topik seputar seksualitas.

Bagaimana Cara Predator Online Bekerja?

Ada beberapa langkah yang umumnya ditempuh oleh predator online.

Meminta Langsung
Ada pelaku yang langsung memulai percakapan bernuansa seksual atau meminta foto yang kurang pantas pada calon korban. Mereka umumnya juga akan langsung menghilang jika korban menolak atau tidak menghiraukan permintaan mereka.

Bunny Hunting
Pelaku mempelajari calon-calon korban dari akun media sosial mereka untuk memilih mana yang lebih mudah didekati.

Grooming
Pelaku mulai mendekati korban secara bertahap. Beberapa strateginya antara lain:
  • Mempelajari hobi atau musik terbaru yang sedang tren di kalangan anak.
  • Mendengarkan dan berempati terhadap beragam masalah yang dialami anak.
  • Sering memuji anak.
  • Mengirim foto pada anak.
  • Mengirimkan hadiah untuk anak yang berdasarkan survey cukup beragam, mulai dari mainan, perhiasan, pakaian, hingga barang berharga seperti alat elektronik.
  • Memanfaatkan rasa keingintahuan anak tentang seksualitas.
  • Secara pelahan memasukkan unsur seksual dalam percakapan atau memaparkan anak pada konten pornografi.
  • Membangun hubungan romantis yang semakin lama semakin terkontrol, sehingga anak merasa tergantung pada pelaku.
  • Memecah belah hubungan anak dengan orang tua, keluarga, dan teman-temannya.

Pada akhirnya, pelaku biasanya akan mengajak korban untuk bertatap muka secara langsung. Korban yang sudah terlanjur merasa dekat, bahkan mungkin jatuh cinta pada pelaku akan memenuhi ajakan ini. Pada pertemuan inilah pelaku meminta korban untuk melakukan hubungan seksual dengannya.


Sextortion (Pemerasan Seksual)
Terkadang jika korban sudah terlanjur termakan rayuan dan mengirimkan foto atau video diri dalam pose vulgar pada pelaku, pelaku akan menggunakan objek-objek tersebut untuk mengancam dan memeras korban. Permintaan pelaku akan semakin bertambah seiring waktu, baik  meminta korban mengirim lebih banyak foto/video maupun mengajak bertemu secara langsung. Jika tidak dituruti keinginannya,  pelaku mengancam untuk menyebarluaskan foto atau video korban ke khalayak luas.

Siapa Saja yang Rawan Menjadi Korban Predator Online?

Korban Predator Online


Sebagian besar korban predator online adalah remaja berusia 13-18 tahun. Predator online umumnya memanfaatkan keingintahuan yang normal dari anak usia tersebut tentang seks dan hubungan romantis. Mereka juga memanfaatkan keinginan anak untuk merasa dihargai, divalidasi, dan dimengerti dengan cara menjadi 'teman dewasa yang spesial' bagi korban. 

Ada beberapa kondisi anak yang membuat mereka lebih rawan terpapar pada predator online, antara lain:
  • Anak yang sedang mempertanyakan identitas seksualnya, yang cenderung mencoba mencari jawaban (atau pasangan) melalui forum-forum online.
  • Anak korban kekerasan seksual atau fisik, yang membuat mereka kurang mampu mengenali bentuk pelecehan yang terjadi pada mereka.
  • Anak yang mengalami depresi atau masalah interaksi sosial, yang mungkin lebih nyaman membangun hubungan secara online melalui ruang-ruang chat di internet
  • Anak yang memiliki hubungan yang kurang baik atau kurang diawasi oleh orang tua.

Selain itu, beberapa perilaku anak di internet yang kurang aman juga menyebabkan mereka lebih beresiko menjadi korban, misalnya:
  • Mengunggah informasi pribadi tanpa membatasi setelan privasi
  • Berinteraksi dengan orang tak dikenal di internet
  • Memasukkan orang tak dikenal dalam jaringan pertemanan di media sosial
  • Mengirimkan informasi pribadi pada orang yang hanya mereka kenal secara online
  • Meninggalkan komentar yang kurang pantas di internet
  • Mengunjungi situs-situs dewasa dengan sengaja
  • Berbicara tentang seks secara online dengan orang tak dikenal

Bagaimana Cara Melindungi Anak dari Predator Online?



1. Memonitor aktivitas anak di internet 

Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua antara lain:
  • Mengetahui games dan aplikasi apa saja yang digunakan anak.
  • Follow akun media sosial anak dengan kesepakatan bahwa orang tua harus bisa melihat semua unggahannya.
  • Memeriksa dengan siapa saja anak berbicara di internet.
  • Memeriksa apakah ada pesan, foto, atau video kurang pantas yang dikirimkan atau diterima anak dari orang lain.

Namun, semakin matang usia anak, semakin berkurang waktu yang mereka habiskan bersama orang tua, dan semakin mudah pula bagi mereka untuk mendapatkan akses internet di luar pengawasan kita. Alih-alih memonitor aktivitas online mereka secara ketat, Mama bisa memilih untuk melakukan dua langkah berikut ini.


2. Membangun komunikasi dengan anak

Membangun komunikasi yang terbuka akan membuat anak tidak ragu memberitahu orang tua jika ada kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Sebaliknya, anak justru akan menyembunyikan masalah yang dihadapinya ketika mereka merasa takut diabaikan, takut dihukum, atau khawatir gawainya akan dirampas orang tua ketika mereka menceritakan problemnya.

Jika anak merasa tidak mendapatkan perhatian, penghargaan, pengertian, dan validasi dari orang tuanya sendiri, ia akan cenderung berusaha mencarinya dari sumber lain, misalnya dari internet. Hal inilah yang justru dapat menjerumuskan anak pada jebakan para predator online.


3. Membekali anak dengan pengetahuan

Berikut beberapa hal yang bisa Mama diskusikan dengan anak seputar topik predator online: 
  • Ada kemungkinan bahwa seseorang yang tak dikenal akan mencoba mendekati mereka di internet, baik melalui media sosial, aplikasi messaging, atau multiplayer games.
  • Apa yang harus dilakukan ketika hal di atas terjadi (mengabaikan, menolak dengan tegas, memblokir, melaporkan).
  • Nomor telepon, alamat, atau informasi pribadi lainnya sebaiknya tidak dibagikan secara sembarangan, terutama pada orang yang hanya dikenal secara online.
  • Foto atau video yang pernah didistribusikan melalui internet, walaupun melalui jalur privat, bisa berakhir menjadi konsumsi publik sewaktu-waktu.
  • Seseorang yang hanya mereka kenal secara online bisa tampak sangat perhatian dan peduli pada mereka, namun hal ini tidak selalu mencerminkan niat yang sesungguhnya.
  • Ajakan bertemu dari seseorang yang hanya dikenal secara online bisa menjadi situasi yang berbahaya. Jika memang akan berangkat, temui di lokasi yang ramai, ajak seseorang yang dipercaya, dan bagikan kontak orang yang akan ditemui pada orang lain.
  • Ajakan mengobrol, menonton, atau saling mengirimkan konten bernuansa seksual bukanlah perilaku yang normal.
  • Pentingnya mempercayai insting dan segera menghubungi orang tua, guru, atau orang dewasa lain yang terpercaya jika ada hal-hal yang membuat mereka kurang nyaman di internet.

Mendeteksi Anak Korban Predator Online



Bagaimana mengetahui apakah anak-anak kita telah menjadi korban predator online ketika mereka jarang menceritakan masalah kepada orang tua? Berikut ini beberapa hal yang patut kita waspadai dari perilaku anak:
  • Sangat berhati-hati menyembunyikan aktivitas onlinenya
  • Terobsesi untuk selalu online
  • Sering menerima telepon atau menelepon seseorang yang tidak kita kenal
  • Menerima surat, paket, atau hadiah dari seseorang yang tidak kita kenal
  • Menarik diri dari keluarga dan teman-teman
  • Menyimpan materi pornografi atau mengkonsumsinya secara online

Jika komunikasi terbuka antara anak dan orang tua telah terjalin, Mama juga dapat membuka sesi diskusi dengan anak dan menanyakan langsung kepada mereka apakah seseorang yang tidak dikenal di internet melakukan hal-hal berikut ini:
  • Merekues pertemanan dengan di media sosial
  • Berbicara dengan anak tentang seks
  • Meminta informasi pribadi
  • Meminta anak mengirim gambar dirinya
  • Mengirim gambar dirinya pada anak
  • Mengatakan sesuatu yang membuat tidak nyaman
  • Mengirimkan hadiah-hadiah 

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Anak Menjadi Korban?

Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua ketika anak sudah terlanjur menjadi korban predator online.

  1. Tidak panik atau menghukum anak.
  2. Berbicara dengan anak tentang perasaan mereka tanpa banyak penghakiman.
  3. Menyimpan bukti berupa pesan, foto, video, atau screenshot yang menunjukkan perbuatan pelaku.
  4. Memblokir pelaku agar tidak bisa lagi menghubungi anak dan melaporkannya pada platform yang digunakan pelaku (Facebook, Instagram, dll).
  5. Melapor pada pihak berwajib.

###

Itulah beberapa hal yang wajib dipahami orang tua seputar bahaya predator online yang mengancam anak-anak kita dari internet. Mari jaga keamanan diri dan keluarga dengan berinternet secara aman!

Referensi


Posting Komentar

0 Komentar