The Joy of Missing Out (JOMO), Lebih Santai dan Bahagia di Era Media Sosial



Berapa kali dalam sehari Mama membuka Facebook, Instagram, atau WhatsApp?

Di era digital ini, memang selalu saja ada yang baru setiap waktu. Status, foto, video, pesan, dan berita baru akan selalu membanjiri gawai kita tanpa henti. Media sosial memang menyenangkan, bahkan bisa membuat kita keasyikan. Scrolling yang tadinya hanya diniatkan beberapa menit saja bisa berubah menjadi satu jam, bahkan lebih lama lagi. Akibatnya, banyak dari kita yang kemudian mengalami fenomena FOMO alias Fear of Missing Out.

FOMO vs JOMO

FOMO di era digital bisa diartikan sebagai keresahan yang timbul ketika seseorang tidak terhubung dengan internet sehingga ia melewatkan berbagai hal menarik yang mungkin sedang terjadi di sana. FOMO menyebabkan seseorang memeriksa timeline, inbox, atau pesan di gawainya terus menerus. Resikonya? Ia tidak mampu menikmati momen yang ada di hadapannya karena pikirannya terpaku pada apa yang sedang dilakukan orang lain di luar sana. Ia merasa khawatir jika tidak bisa segera membalas email, SMS, pesan, atau komentar untuknya. Ia juga beresiko merasa lebih tidak bahagia karena selalu membandingkan kondisi dirinya dengan orang lain.

JOMO, singkatan dari Joy of Missing Out, pada dasarnya adalah kebalikan dari FOMO. Jika seseorang yang mengalami FOMO merasa gelisah jika ia tidak punya kesempatan untuk membuka media sosial, seseorang yang merasakan JOMO malah bersikap santai atau bahkan lebih bahagia ketika ia mematikan gawai dan fokus pada aktivitasnya.

JOMO adalah tentang menemukan keseimbangan antara dunia maya dengan dunia nyata, memilih untuk tidak terkoneksi dan tidak mengikuti arus, serta merasa baik-baik saja dengan apa yang ada di hadapan kita saat ini.

JOMO untuk Hidup yang Lebih Bahagia


JOMO adalah salah bentuk self-care yang perlu kita latih dan tumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari di era digital saat ini. Bagaimana cara menerapkannya? Berikut beberapa tipsnya.

  • Menentukan prioritas aktivitas sehari-hari. Buat daftar pekerjaan apa saja yang perlu kita selesaikan. Setiap kali kita akan mengerjakan sesuatu, termasuk membuka media sosial, periksa lagi apakah aktivitas lain yang menjadi prioritas kita sudah terselesaikan terlebih dahulu. Beranilah mengatakan 'tidak' untuk hal-hal yang tidak penting.
  • One thing at a time. Meskipun banyak yang mengatakan seorang wanita lebih ahli dalam hal multitasking, otak kita sebenarnya hanya mampu memproses satu hal dalam satu waktu. Fokuslah pada apa yang kita kerjakan saat ini dan nikmati kebersamaan dengan orang-orang yang sedang duduk bersama kita. Media sosial bisa menunggu.
  • Lakukan lebih banyak hal yang produktif dan menyenangkan, yang membuat kita bisa melupakan gawai.
  • Kejar kualitas, bukan kuantitas. Apakah membaca semua percakapan di grup WhatsApp, semua update status di Facebook, atau semua judul di portal berita online benar-benar membuat kita lebih pandai atau bahagia? Kejarlah kualitas dari informasi yang kita konsumsi. Lebih baik sedikit namun bernilai positif daripada berlimpah namun membuat kita kewalahan.
  • Diet digital. Sebagaimana ketika sedang diet kita membatasi jumlah dan jenis makanan yang kita konsumsi, diet digital juga berarti membatasi jumlah dan konten informasi yang kita konsumsi dari gawai sehari-hari. Gunakan waktu online seoptimal mungkin, dan batasi konten hanya berupa hal-hal yang memang berarti bagi diri kita. 
  • Beri tahu orang sekitar tentang kebiasaan kita bergawai. Jika Mama menerapkan gadget hour atau waktu khusus dalam sehari untuk membuka email, WhatsApp, dan inbox Facebook, beritahukanlah hal ini pada kerabat, teman, dan kolega agar mereka tidak berharap pesan mereka akan segera mendapat balasan. Mama bisa meminta mereka menelepon jika memang ada keperluan yang mendesak.
  • Pahami bahwa media sosial hanya menunjukkan satu sisi kehidupan. Sebagian besar orang hanya menampilkan versi terbaik dari diri mereka di media sosial. Ada lebih banyak lagi hal-hal dalam hidup mereka yang tidak diunggah, termasuk hal-hal negatif yang seringkali juga terjadi pada kehidupan kita sendiri.
  • Sadari bahwa FOMO seringkali dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi untuk mengambil keuntungan dari diri kita sebagai konsumennya. Tak hanya media sosial yang ingin kita berlama-lama menggunakan aplikasi mereka, banyak pula marketplace yang menawarkan berbagai promo menarik yang diberikan hanya jika kita sering-sering berkunjung ke aplikasi. 

JOMO dan Diet Digital

Diet digital adalah salah satu bagian penting dari menerapkan JOMO. Inilah beberapa tips diet digital untuk menjaga asupan informasi yang kita terima sehari-hari dari gawai. 
  • Unfriend orang-orang yang bersifat toxic dari lingkaran pertemanan kita. Tak hanya di media sosial, tips ini juga bisa diterapkan di dunia nyata, lho.
  • Unfollow akun yang tidak bermanfaat dan update status dari orang-orang yang tidak lagi bersinggungan hidupnya dengan kita.
  • Matikan notifikasi group chat di WhatsApp, like dan comments yang didapatkan oleh unggahan kita di media sosial, promo marketplace, dan hal-hal lain yang tidak perlu dibaca segera. 
  • Ganti wallpaper gawai kita ketika sedang dikunci (lock screen) dengan gambar yang mengingatkan kita untuk tidak sering-sering membuka gawai seperti contoh berikut ini.
Unduh gambar aslinya dari Berkeley Well Being Institute

  • Memakai aplikasi time logger untuk mengetahui berapa lama kita menghabiskan waktu di gawai dan untuk apa saja. Ada banyak pilihan yang bisa Mama gunakan seperti App Usage, App Statistics, atau Your Hour. Hasilnya bisa jadi cukup mengejutkan, lho! Aplikasi yang sama biasanya juga memiliki fitur untuk membatasi berapa lama kita boleh memakai aplikasi tertentu dalam sehari. Jika telah melebihi batas waktu, aplikasi akan diblokir agar tak dapat diakses lagi.

  • Puasa medsos. Cobalah untuk tidak membuka media sosial sama sekali dalam jangka waktu tertentu, bisa sehari, seminggu, atau sebulan. Evaluasi apa yang kita rasakan saat puasa berakhir. Apakah kita lebih bahagia?

Semakin sedikit kita bergantung pada gawai dan media sosial, semakin kecil kemungkinan kita akan mengalami FOMO. Mari selangkah demi selangkah mentransformasi FOMO menjadi JOMO. Sanggup?

Posting Komentar

0 Komentar