Usia Berapa Anak Boleh Punya Gawai Sendiri?


Inilah pertanyaan yang cukup lumrah terdengar dari orang tua anak-anak yang beranjak memasuki usia remaja. Berbeda dengan menyetir kendaraan, memang tidak ada batas legal pada usia berapa anak boleh memiliki gawainya sendiri. Pada kisaran usia 10-12 tahun, sebagian anak mungkin akan meminta smartphone sendiri pada orang tuanya dengan alasan bahwa jika ia tidak bisa berhubungan dengan teman-temannya secara online maka kehidupan sosialnya akan "hancur". Mama tentu boleh skeptis terhadap alasan ini, tapi kepemilikan gawai pada anak tidak hanya sekadar soal kehidupan sosial. 

Alasan keamanan adalah salah satu pertimbangan umum orang tua ketika memberikan gawai pada anaknya. Ketika anak membawa gawai sendiri, orang tua bisa memantau lokasi dan aktivitas anak dengan lebih mudah, menginformasikan keberadaan orang tua pada anak, juga saling menghubungi dengan cepat dalam situasi darurat. 

Di sisi lain, ada pula berbagai resiko yang mungkin menjadi kekhawatiran orang tua, misalnya:
  • Faktor finansial. Gawai bukanlah barang yang murah. Sudah siapkah kita memberikan gawai pada anak dengan resiko rusak atau kehilangan? Siapa yang akan membayar tagihan pulsa dan kuota internet di gawai anak?
  • Kesehatan. Gangguan tidur, obesitas, dan kecanduan adalah beberapa resiko kesehatan fisik dan mental anak yang dapat diakibatkan oleh gawai.
  • Keselamatan. Ada berbagai gangguan yang bisa dijumpai anak dari internet seperti cyberbullying, predator online, juga peretasan data pribadi. Selain itu, menggunakan gawai dengan tidak berhati-hati juga bisa membahayakan keselamatan anak di ruang publik, misalnya ketika digunakan sambil mengendara atau saat anak selfie tanpa memperhatikan kondisi sekitar.
Menimbang-nimbang antara manfaat dengan resiko adalah salah satu hal yang perlu kita lakukan untuk menentukan apakah sudah tiba saatnya anak kita memiliki gawai sendiri.

Berdasarkan survei The Common Sense pada tahun 2019 di Amerika Serikat, pada usia 11 tahun mayoritas anak (53%) sudah memiliki smartphone sendiri, dan pada usia 12 tahun angka ini sudah mencapai 69%. Bill Gates, sang pendiri Microsoft, mengatakan bahwa ia baru memberikan smartphone pada anak-anaknya di usia 14 tahun. Sejauh yang dapat kami gali, belum ada kesepakatan di antara para ahli yang menyatakan dengan pasti usia berapa anak sebaiknya boleh memiliki gawai sendiri. 

Kami pun percaya ungkapan "there is no magic number" untuk menjawab pertanyaan ini. Karena itu, dibandingkan dengan memberikan gawai pada anak berdasarkan usia, kami lebih cenderung mengajak orang tua untuk mengevaluasi kesiapan anak dengan mempertimbangkan kebutuhan dan rasa tanggung jawab.

Evaluasi Kesiapan Anak untuk Punya Gawai Sendiri

1. Apakah anak membutuhkan gawai sekarang? 

Cobalah berdiskusi dengan pasangan dan anak tentang mengapa anak membutuhkan gawai. Jika satu-satunya alasan yang bisa Mama temukan saat ini adalah karena anak mengatakan "Karena semua temanku sekarang sudah punya!", mungkin Mama perlu menundanya. 

Bantulah anak untuk membedakan antara keinginan dengan kebutuhannya. Anak yang lebih besar dan mulai berkegiatan mandiri lebih mungkin membutuhkan gawai sendiri untuk berkoordinasi seputar kegiatannya dengan orang tua maupun dengan teman sebaya. Sebaliknya, jika anak belum banyak berkegiatan di luar sekolah tanpa pendampingan orang tua, pertimbangkan baik-baik apakah ia memang sudah membutuhkan gawai sendiri. Untuk mengerjakan tugas sekolah atau sekadar main game, anak masih bisa meminjam gawai orang tua saat berada di rumah, bukan?

2. Apakah anak sudah menunjukkan perilaku bertanggung jawab?

Tidak ada angka yang pasti untuk menjawab pada usia berapa anak bisa bertanggung jawab atas diri, perilaku, dan barang-barang miliknya. Dengan melihat ke sekitar, Mama pasti sudah mengetahui bahwa ada anak berusia 10 tahun yang lebih bertanggung jawab daripada anak berusia 15 tahun. 

Beberapa hal yang bisa Mama gali untuk mengevaluasi tanggung jawab anak antara lain sebagai berikut.
  • Apakah anak memahami dan mampu menepati batas waktu? Misalnya, jika ia berkata akan pulang main pada pukul lima sore, apakah ia biasanya menepatinya? Hal ini akan mempengaruhi kemampuan anak untuk menepati kesepakatan tentang batas waktu pemakaian gawai dalam keseharian.
  • Apakah anak mampu mengikuti aturan keluarga, sekolah, dan masyarakat? Misalnya, apakah anak bisa dipercaya untuk tidak chatting di kelas saat jam pelajaran sedang berlangsung?
  • Apakah anak mampu menjaga barang-barang pribadinya? Jika anak masih sering meninggalkan barangnya di sembarang tempat atau membuatnya rusak, pertimbangkan kemungkinan bahwa anak juga akan kehilangan atau merusak gawai yang harganya tidak murah.
  • Apakah anak sudah mampu menjaga keselamatan dirinya? Misalnya, apakah ia bisa dipercaya untuk tidak menyeberang jalan sambil mengetik pesan di gawai?
  • Apakah anak sudah memahami konsep privasi? Misalnya, apakah mereka mampu menahan diri dari menyebarkan foto dan video yang dapat mempermalukan diri sendiri dan orang lain? 
  • Apakah anak sudah bisa mengatur uang? Menelepon tanpa mengenal batas waktu, mengunduh aplikasi berbayar, atau membeli nyawa baru dalam game online yang dimainkan bisa menyebabkan ongkos penggunaan gawai meningkat tajam.

Tahapan Memberikan Gawai pada Anak

Dengan mempertimbangkan dua hal di atas, Mama dapat mempertimbangkan untuk memberikan gawai pada anak dengan tahapan berikut ini.

1. Jika anak belum membutuhkan gawai, jangan berikan.
Untuk keperluan browsing, main game, atau menonton video, anak bisa menggunakan perangkat keluarga (seperti laptop) atau meminjam gawai orang tua.

2. Jika anak sudah membutuhkan gawai tetapi belum dipercaya untuk menggunakan smartphone secara bertanggung jawab, berikan gawai dengan fungsi minimalis.
Alih-alih smartphone, Mama bisa membelikan anak dumbphone, ponsel yang hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim SMS. Alternatif lainnya, Mama juga bisa memberikan smartwatch untuk anak, yaitu jam tangan yang umumnya dilengkapi dengan GPS untuk melacak lokasi, telepon, dan tombol darurat.

3. Jika anak boleh memiliki smartphone sendiri untuk pertama kalinya, buatlah perjanjian penggunaan gawai, gunakan parental control, dan monitor aktivitas anak di media sosial.
  • Perjanjian penggunaan gawai adalah kesepakatan yang dibuat oleh orang tua dengan anak seputar kepemilikan gawai, batasan waktu dan tempat memakai gawai, batasan konten yang boleh dikonsumsi, pedoman kesehatan, keamanan, dan etika saat menggunakan gawai,  batasan finansial, juga konsekuensi yang harus dihadapi anak ketika kesepakatan dilanggar. Pastikan bahwa anak memahami sejak awal tentang aturan dan konsekuensi ini sebelum ia menerima gawai untuk pertama kalinya.
  • Parental control adalah aplikasi yang bisa dipasang di gawai anak agar kita dapat memonitor aktivitasnya di gawai, memblokir aplikasi tertentu, serta menetapkan batasan waktu. Google Family Link adalah salah satu contoh aplikasi parental control yang dapat dipasang di perangkat Android terbaru. 
  • Ketika anak sudah memiliki akun media sosial, pastikan bahwa kita memiliki akses untuk bisa melihat aktivitasnya. Dengan cara ini kita dapat mengevaluasi apakah anak sudah cukup bertanggung jawab atas unggahannya dan mampu melindungi privasi diri dan keselamatannya di dunia maya. 

4. Jika anak sudah menunjukkan perilaku bertanggung jawab saat menggunakan smartphone, saatnya melepas parental control dan memberinya kepercayaan.
Dengan melalui tahapan-tahapan sebelumnya, pada dasarnya kita sedang membangun kebiasaan baik anak saat menggunakan gawai. Seperti halnya dalam banyak aspek kehidupan anak yang lain, akan tiba saatnya orang tua melepaskan anak untuk bertanggung jawab atas penggunaan gawainya sendiri. Menghapus parental control adalah salah satu langkah untuk memberikan mereka kepercayaan. Lakukan hal ini ketika kita yakin bahwa mereka mampu  membuat keputusan yang baik dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.

###

Semoga dengan mengikuti panduan di atas, Mama akan mampu mengambil keputusan yang bijak untuk memberikan gawai pada anak. Selamat berdiskusi bersama keluarga!

Posting Komentar

0 Komentar