Balada Anak Belajar di Rumah, Orangtua Kembali ke Kantor


Meski kegiatan ekonomi mulai digiatkan kembali, pemerintah belum memutuskan untuk membuka kembali sekolah-sekolah. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memasuki babak baru. Jika saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), anak-anak bisa belajar didampingi orangtua yang sedang work from home (WFH), sekarang orangtua sudah harus kembali bekerja di kantor. Apa yang harus dilakukan orangtua?

PJJ merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua, siswa, juga guru. Seberat apapun tantangan ini, keputusan untuk tidak mengirim anak-anak ke sekolah selama pandemi masih menjadi opsi terbaik demi kesehatan dan keselamatan anak-anak dan keluarga. Meski itu artinya, ada banyak hal yang harus disiapkan dan ditata ulang agar PJJ bisa berjalan baik.

Mengatur waktu

Jika saja ilmu membelah diri bisa dikuasai, selesai semua perkara. Orangtua, baik salah satu atau keduanya bekerja di luar rumah, harus menyiapkan strategi terbaik agar urusan sekolah anak beres, urusan kerjaan pun berjalan lancar. 

Elaine, 36 tahun, bekerja di instansi yang sama dengan suaminya. Keduanya harus mengatur jadwal agar tidak masuk kantor bersamaan. Saat ini jadwal ngantor sesuai dengan waktu piket. “Jadi kami nego ke atasan masing-masing supaya kami masuknya jangan di hari yang sama,” katanya.

Tidak semua punya keleluasaan untuk bisa mengatur jadwal kerja. Ami, 30 tahun, justru harus nego dengan sekolah anaknya agar tugas bisa dikumpulkan malam hari, setelah jam kerja usai. Nego yang ia lakukan tak selalu berhasil. Walhasil selama bekerja, ia juga harus memantau aktivitas belajar anak. “Video call untuk ngecek tugas sudah beres atau belum, kalau ada kendala anak juga telepon,” katanya.


Manajemen gadget

Jungkir balik orangtua tak hanya soal pengaturan waktu, tapi juga manajemen gawai. Orangtua juga harus mengatur soal pembagian gadget yang digunakan. Elaine yang memiliki tiga anak usia sekolah bercerita, PJJ di sekolah anaknya tidak selalu mengadakan pertemuan virtual lewat zoom atau aplikasi sejenisnya. Dua anaknya yang duduk di bangku SD setiap hari akan menerima video pembelajaran dari guru. Tugas-tugas dikerjakan melalui Google Forms. “Untuk test one-on-one menggunakan WhatsApp call,” ujarnya. Sementara si bungsu yang masih duduk di bangku TK, setiap hari akan menerima private call dari guru melalui WhatsApp. 

Semua aktivitas PJJ anak-anaknya itu berlangsung bersamaan sehingga perlu disiapkan gawai untuk kebutuhan masing-masing anak.  “Pirantinya harus banyak. Siasatnya laptop satu dipakai untuk WhatsApp web suami, laptop satunya pakai WhatsApp web saya, yang TK pakai HP utinya (neneknya),” katanya.

Agar rencana ini mulus, Elaine dari jauh-jauh hari sudah membicarakan soal ini dengan anak-anak. Mereka telah membuat kesepakatan tentang waktu dan durasi menggunakan gadget, serta apa saja yang bisa diakses. “Tapi namanya anak-anak, di sela-sela menunggu materi dari sekoah, ada saja yang dibuka. Kerjaan sekolah belum selesai sudah klak klik klak klik lainnya,” ujar Elaine. Pusing Mama dibuatnya.

Kendala makin sulit ketika gadget yang ada tidak memadai, baik secara jumlah, maupun dari sisi dukungan teknologinya.

Menggunakan aplikasi remote desktop 

Ini cerita Dian dan putranya yang duduk di kelas 2 SD. Putranya termasuk yang menikmati PJJ ini. Setelah tiga bulan berjalan, anaknya sudah terbiasa mengoperasikan aplikasi seperti Zoom atau Google Classroom. 

Sebagai pekerja yang sudah harus kembali ke kantor, Dian tak bisa mendampingi anaknya secara langsung.  Meski begitu, ia tetap harus memantau aktivitas anaknya di rumah. Untuk kebutuhan PJJ, anaknya menggunakan akun Google miliknya. “Saya bisa mengaksesnya di device yang lain,” ujarnya. Dengan cara itu, ia bisa memantau aktivitas anaknya di Google Play dan YouTube dari history.

Cara ini bisa digunakan untuk memantau aktivitas anak, tetapi tidak optimal untuk membantu anak yang kendala teknis di rumah. Mama bisa menggunakan aplikasi remote desktop untuk memecahkan masalah ini. Remote desktop memungkinkan pengguna untuk mengoperasikan komputer yang berbeda lokasi melalui komputer yang digunakan saat ini dengan menggunakan koneksi internet. 

Dengan remote desktop, Mama bisa mengoperasikan komputer yang digunakan anak di rumah. Aplikasi berguna jika pada suatu saat anak-anak mengalami kendala dengan komputernya, Mama yang ada di kantor bisa membantu. Mama juga bisa memantau aktivitas anak di komputer itu, seperti misalnya pertemuan virtual, juga bisa mengetahui materi pelajaran yang diterima anak. 

Ada beberapa aplikasi remote desktop yang bisa digunakan, dua yang paling populer ialah:
  • TeamViewer - Memiliki empat fitur utama yaitu Remote Support, Presentation, File Transfer, dan VPN. Remote Viewer, yang menjadi bagian dari Remote Support, adalah fitur paling populer dan paling sering digunakan oleh pengguna TeamViewer. Aplikasi ini menyediakan versi gratis dan berbayar. Versi gratis tentu terdapat beberapa keterbatasan. TeamViewer bisa digunakan di sistem operasi Windows, Mac, Linux, Chrome OS, Android, iOS, juga Windows App.
  • AnyDesk - Secara garis beras, fasilitas yang tersedia sama dengan Team Viewer. Bedanya, ukuran file yang  bisa dikirimkan lebih kecil, maksimal hanya 3,2 MB (Team Viewer mencapai 25,7 MB). Perbedaan lainnya, AnyDesk bisa digunakan tanpa diinstal. Aplikasi ini bisa digunakan gratis untuk penggunaan pribadi. Sedangkan untuk penggunaan bisnis tersedia versi versi berbayar.

Tidak ada solusi seragam

Peneliti pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Anggi Afriansyah mengatakan, kendala pendidikan jarak jauh tidak dialami siswa di Indonesia saja. Model pendidikan jarak jauh yang mengandalkan koneksi internet, pada akhirnya memang memarjinalkan wilayah tanpa internet.

PJJ sebagai terminologi yang dipilih untuk melanjutkan pendidikan di masa pandemi ini menunjukkan peran sentral layanan internet. “Berbeda misalnya dengan terminologi home based learning. Pembelajarannya jarak dekat tetapi dengan orangtua, bukan guru,” ujarnya  saat menjadi pembicara di Webinar Kebutuhan Gadget vs Kecanduan Gadget di Masa Pandemi, pekan lalu.



Ia menjelaskan, pendidikan yang berlangsung selama ini menempatkan guru sebagai garda terdepan. Itu sebabnya ketika pandemi melanda, sekolah ditutup dan mengharuskan siswa belajar di rumah, kegaduhan sempat terjadi. Orangtua merasa guru jadi keenakan, sementara orangtua harus memikul beban ganda sebagai guru di rumah juga harus kembali bekerja. “Sekarang ini, orangtua yang harus jadi garda terdepan,” ujarnya. 

Menurut Anggi, yang tidak boleh luput dilakukan selama PJJ ialah diskusi antara sekolah dengan orangtua. Agar sekolah mendapat masukan orangtua untuk menemukan bentuk terbaik PJJ. 

Anggi berpendapat, tidak ada solusi yang seragam untuk melaksanakan PJJ ini. Metode yang dipilih akan sangat bergantung pada kondisi masing-masing sekolah. Sekolah yang paling mengetahui bagaimana kondisi siswa dan keluarganya. Hanya saja yang harus diingat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menekankan sekolah tak perlu mengejar target kurikulum selama pandemi ini. Siswa diharapkan bisa mengalami kemajuan sesuai dengan perkembangannya.

Anggi mengingatkan agar orangtua selalu memperbaiki pengetahuan teknologinya. “Jadilah ahli dunia maya dengan upgrade tentang teknologi dan cara tetap aman saat online,” katanya.

Selama PJJ ini, orangtua harus menguasai teknologi yang diperlukan untuk proses belajar ini. Agar orangtua bisa mengoperasikan aplikasi yang digunakan, juga membantu jika anak mengalami kendala. 

Pandemi ini telah menempatkan kita semua pada lautan dengan badai yang sama besar. Namun tidak semua berada di kapal yang sama baiknya. Ada orangtua yang bisa menyediakan semua piranti yang diperlukan untuk PJJ, namun kelimpungan mengatur waktu mendampingi anaknya. Di sisi lain, masih banyak orangtua yang kesulitan menyediakan gadget yang memadai untuk anaknya, belum lagi koneksi internet yang tidak merata. Beberapa inisiatif digalakkan oleh masyarakat lewat media sosial untuk membantu mengatasi kesulitan itu. Misalnya lewat donasi smartphone bekas, juga upaya menyediakan WiFi gratis untuk pelajar. Jika memungkinkan, Mama bisa turut serta dalam inisiatif itu untuk membantu orangtua lainnya.

Kalau balada PJJ ini membuat Mama stres berat, ingatlah, Mama tidak sendirian. Setidaknya ada 1,2 miliar orangtua di dunia ini yang menghadapi tantangan yang sama. Tetap semangat, Mama!

Posting Komentar

0 Komentar