Cara Terhindar dari Penipuan Jual Beli Online


“Pakeeeettttt!!!” 

Hayo siapa yang kegirangan kalau dengar kurir paket memanggil di depan rumah? Bahagia karena barang hasil belanja online akhirnya datang juga. Lega juga kalau bisa belanja mudah tanpa kesandung penipuan jual beli online

Meski jual beli online sekarang sudah jadi hal lumrah, kejadian penipuan jual beli online masih sering terjadi lho, Mama! Seperti yang dialami oleh Lia, 39 tahun, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Bandung ini. Ia tergiur promo yang ditawarkan oleh akun Instagram sebuah online shop (olshop). “Sempat ada ice cream legendaris yang hits lagi itu. Harganya miring banget. Kalau beli tiga bisa diskon sampai hamper 30 persen,” katanya. 

Setelah berhasil mengajak saudara dan teman untuk order bersama-sama, Lia langsung memesan tiga kotak ice cream. Seuai petunjuk di akun Instagram itu, transaksi dilakukan lewat WhatsApp. Lia mengikuti semua tahapan pembelian sesuai yang diminta penjual. Ia mentransfer sejumlah uang untuk pembelian barang dan ongkos kirim ke rekening penjual. Hari berganti, ice cream yang ditunggu tidak datang juga. Nomor WhatsApp yang semula digunakan untuk berkomunikasi, juga tidak terhubung. Rupanya, Lia sudah diblokir oleh si penjual. “Ya sudah apa mau dikata, untung nominalnya tidak terlalu besar,” katanya. Itu juga yang membuatnya malas mengurus penipuan ini ke bank penerima dana. 

Ini bukan penipuan jual beli online pertama yang ia alami. Sebelumnya, ia juga pernah tertipu saat membeli pakaian untuk putrinya. Modusnya juga serupa. Berawal dari promo diskon di akun olshop. “Diskonnya hampir 50 persen. Itu diskon yang sangat besar untuk merek pakaian itu. Makanya saya langsung beli tiga. Uang sudah ditransfer, barang tidak datang juga,” katanya. 

Maraknya Jual Beli Online

Jual beli online memang semakin populer di Indonesia. Data Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) sampai akhir 2019 menyebut, pertumbuhan e-commerce mencapai 500 persen dihitung dari angka empat tahun lalu. Perkembangan itu disokong oleh banyaknya jumlah masyarakat Indonesia yang terkoneksi dengan layanan internet. Dari 269 juta penduduk, sekitar 130 juta orang telah terkoneksi dengan internet. Sekitar 70 juta diantaranya merupakan pengguna smartphone. Dengan potensi itu, diprediksi akan terjadi 12 miliar transaksi online pada 2020. 

Transaksi online juga menjadi solusi pada masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Jual beli online cocok dengan gaya hidup di rumah saja dan bisa mengurangi kontak dengan orang lain. Menurut Analytic Data Advertising (ADA), aktivitas belanja online naik 400 persen sejak Maret 2020. Pada bulan yang sama, Bank Indonesia mencatat 98,3 juta transaksi online, meningkat 18,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

Meski begitu, pengaduan terkait jual beli online ini juga meningkat. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menerima 8 pengaduan mengenai jual beli online selama 2019. Jumlahnya melonjak pada kurun waktu Januari-Mei 2020, yaitu sebanyak 70 pengaduan. Pengaduan paling banyak terkait dengan phishing atau penipuan yang bertujuan mencuri akun dengan cara mengelabuhi targetnya. 



Mana yang lebih aman? 


Transaksi jual beli online saat ini bisa dilakukan dengan beberapa cara. Bisa transaksi langsung dengan penjual (misalnya dari akun Instagram kemudian berlanjut ke WhatsApp, transfer dana langsung ke penjual), melalui official website, dan lewat marketplace. Dari tiga saluran itu, manakah yang lebih aman? 

Professional IT Amiril Muslimin berpendapat, sejauh ini marketplace menjadi saluran jual beli online yang paling aman. “Setiap saluran ada pro dan kontranya,” kata praktisi dengan pengalaman 13 tahun di perusahaan multinasional yang bergerat di bidang IT services, security, dan cloud computing itu. Berikut ulasan lengkapnya. 

Transfer langsung 

Kelebihan: 
  • Pembeli tidak perlu membagi data pribadi sehingga privasi lebih terlindungi. 
  • Pembeli bisa mendapat potongan harga yang lebih besar karena penjual tidak perlu membayar transaction fee ke marketplace. Jika pemasaran dilakukan hanya melalui Instagram atau media sosial lainnya, penjual juga tidak perlu menanggung biaya hosting website

Kelemahan: 
  • Perlu usaha lebih dari pembeli untuk memastikan penjual terpercaya atau tidak. 
  • Tidak ada pihak ketiga yang memediasi jika terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli. 
  • Dana langsung ditransfer ke penjual sehingga jika penjual wanprestasi, dana akan hilang. 

Tips: 
Pembeli harus mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk memastikan olshop di Instagram atau media sosial lainnya dapat dipercaya. Tips yang bisa dilakukan: 
  • Periksa apakah olshop yang ditemui di IG juga bisa dijumpai di marketplace populer. Caranya bisa dengan mencari username olshop tersebut di marketplace atau bisa dengan tanya langsung ke pengelola olshop itu. Jika iya, maka bisa dicek status merchant, jumlah transaksi yang berhasil dilakukan, dan ulsan dari pembeli. 
  • Periksa apakah olshop tersebut mempunyai toko fisik? Caranya bisa dengan melakukan penelusuran lewat Google atau dengan bertanya langsung kepada pengelola olshop. Jika tidak punya toko fisik, juga tidak punya akun di marketplace maka bisa memeriksa profil pengikut di media sosialnya dengan cara seperti di poin selanjutnya. 
  • Periksa profil Instagram beberapa orang yang berkomentar di akun olshop itu. Cari yang sudah pernah bertransaksi di sana. Periksa apakah profil mereka terpercaya. Caranya bisa dilihat di sini. Jika profilnya bukan abal-abal, bisa juga mengirim Direct Message untuk menanyakan pengalaman transaksi di olshop itu. 

Website resmi

Kelebihan: 
  • Pembeli bisa mendapatkan harga yang lebih murah atau diskon yang lebih besar karena penjual tidak perlu membayar transaction fee ke marketplace

Kelemahan: 
  • Ada risiko phishing website, perlu ada usaha tambahan untuk memastikan website tersebut terpercaya dana man untuk bertransaksi. 
  • Pembeli perlu mengisi data pribadi dan data finansial (kartu kredit) di website resmi untuk transaksi yang rentan terjadi pelanggaran privacy
  • Tidak ada pihak ketiga untuk mediasi jika terjadi perselisihan.
  • Dana langsung di transfer ke penjual. Jika penjual wanprestasi, dana akan hilang. 

Tips: 
  • Sebisa mungkin hindari memakai kartu kredit karena berisiko kehilangan dana sebesar sisa limit kartu kredit jika terjadi data breach oleh hacker
  • Alternatif paling nyaman dan relatif aman adalah dengan menggunakan transfer lewat virtual account karena customer tidak perlu input data finansial. 
  • Alternatif lain yang bisa dipertimbangkan untuk menjaga keamanan data perbankan adalah dengan memanfaatkan saluran manual seperti pembayaran di Alfamart/Indomaret atau fitur COD (cash on delivery). 

Marketplace

Kelebihan: 
  • Pelanggan bisa memilah mana penjual yang bisa dipercaya, misalnya dengan melihat review, rating, dan status merchant.
  • Ada bantuan mediasi pihak ketiga (marketplace) jika ada perselisihan dalam transaksi. 
  • Dana tidak hilang, karena di transfer dulu ke marketplace. Jika penjual wanprestasi, dana dikembalikan oleh marketplace ke pembeli. 

Kelemahan: 
  • Pembeli perlu membagi data pribadi ke marketplace
  • Ada risiko pencurian data pelanggan karena hacking

Tips: 
  • Untuk menilai apakah penjual bisa dipercaya atau tidak, pembeli bisa memeriksa status merchant penjual, contohnya apakah termasuk Power Merchants (Tokopedia) atau Star Seller (Shopee). Status tersebut diberikan kepada toko-toko yang sudah memenuhi kualifikasi yang ditetapkan marketplace. Biasanya dilihat dari jumlah minimum penjualan, persentase chat dibalas tepat waktu, dan sebagainya. Itu bisa menjadi indikasi trusted seller
  • Indikator lainnya ialah jumlah penjualan, rating dan ulasan dari customer. Beri perhatian pada ulasan pembeli terutama yang berisi keluhan dan lihat bagaimana cara penjual menanganinya. 
  • Transaksi paling aman dilakukan lewat saluran manual, seperti pembayaran di Indomaret/Alfamart. Tetapi cara tersebut cukup merepotkan. Cara paling nyaman dan tergolong aman ialah dengan transfer ke rekening virtual melalui m-banking
  • Ketika mentransfer, jangan menggunakan wifi di tempat umum. Usahakan menggunakan koneksi internet pribadi. 



Penjual juga bisa tertipu 


Penipuan jual beli online tidak hanya menimpa pembeli, penjual pun punya risiko yang sama. Salah satu yang sering dikeluhkan, lantaran pembeli mengaku mentransfer dana dari aplikasi tertentu yang tidak hanya meminta nomor rekening penjual, tetapi juga nomor kartu ATM juga kode angka yang tertera di bagian belakang kartu debit. 

Menurut Amiril,ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh penjual untuk terhindar dari penipuan, yaitu: 
  • Hanya melayani transaksi jual beli lewat marketplace. Dengan begitu ada pihak ketiga yang membantu memediasi jika ada perselisihan. Penjual tetap bisa mempromosikan produknya lewat media sosial untuk meningkatkan engagement dengan konsumen. Namun ketika bertransaksi bisa diarahkan ke marketplace. 
  • Jangan membagi data pribadi lainnya kepada pembeli. Untuk kebutuhan transfer hanya diperlukan nomor dan nama pemiliki rekening. Untuk meminimalisir kebocoran data, sebaiknya menggunakan metode pembayaran dengan virtual account

Pengelola olshop juga harus membangun kepercayaan konsumen. Bagaimanapun kenyamanan dan keamanan merupakan faktor utama yang diperhatikan konsumen saat berbelanja online. Beberapa hal yang bisa dilakukan ialah: 
  • Jika memungkinkan bisa membuat toko fisik. 
  • Hadir di online marketplace yang dikenal luas oleh konsumen. Promosi dan aktivitas marketing lainnya bisa tetap dilakukan di media sosial. 
  • Menyiapkan SOP (Standard Operating Procedure) untuk melayani pelanggan, baik di marketplace maupun saluran lainnya. Misalnya harus merespons pertanyaan konsumen maksimal lima menit. 
  • Mencapai status penjual terpercaya, misalnya Power Merchants (Tokopedia) atau Star Seller (Shopee).
  • Membangun basis pengikut original (bukan fake account) di sosial media, misalnya Instagram dan Facebook, kemudian menciptakan engagement setiap hari dengan mengunggah secara berkala dengan porsi 80 persen informasi yang relevan untuk mendukung produk dan 20 persen promosi produk (manfaat produk, cara bertransaksi, dan lainnya). Strategi ini untuk menciptakan kepercayaan dari followers dan mempersiapkan mereka untuk dikonversi menjadi pembeli. 

Keamanan bertransaksi akan selalu menjadi perhatian utama saat bertransaksi online. Meskipun banyak yang bilang, “Mending nyesel beli daripada enggak beli”, tapi pasti lebih nyesel kalau kena tipu. Wah jangan sampai, deh!

Posting Komentar

0 Komentar