Finstagram, "Fake" Instagram Tempat Seseorang Menjadi Diri Sendiri



Rini, 36 tahun, adalah seorang penulis yang karyanya telah menghiasi rak-rak toko buku terkemuka. Akun Instagram menjadi salah satu medianya untuk mempromosikan karya, berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait profesinya, juga berbagi pesan tentang kehidupan. Unggahannya dihiasi oleh foto-foto bukunya, gambar ilustrasinya yang khas bernuansa hitam putih, dokumentasi aktivitasnya di bidang literasi, juga sesekali ajakan untuk hidup minim sampah yang juga sedang ditekuninya.

Sejak Instagram menghapus fitur "close friends" untuk postingan, Rini akhirnya memutuskan untuk membuat akun Instagram keduanya. Berbeda dengan akun utamanya yang diset publik dengan jumlah follower lebih dari 3000 orang, akun keduanya ini diset privat dengan jumlah follower yang jauh lebih sedikit. Hanya orang-orang yang benar-benar ia kenal atau pernah bertemu yang ia terima sebagai follower, kebanyakan adalah teman-teman lamanya.  

Rini memang sengaja tidak ingin menampilkan hal-hal yang terlalu personal di akun utamanya. Foto anak dan keluarganya sangat jarang ditampilkan di sana, terkadang hanya numpang lewat di Story yang akan hilang dalam 24 jam. Ia juga berusaha untuk selalu mengunggah sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca, "Jadi kalau posting foto diri sendiri ya tidak berfaedah." 

Sebaliknya, di akun keduanya ia merasa bebas untuk mengunggah hal remeh temeh, yang tidak relevan dengan hidupnya sebagai penulis. Foto selfie atau bareng keluarga, hasil utak-atik di dapur, juga cerita reunian ada di sana. Di akun Finstagramnya, Rini merasa bebas menjadi diri sendiri.

Finstagram alias Finsta

Foto oleh Kate Torline di Unsplash

Finstagram, atau yang seringkali disingkat sebagai finsta, bukanlah aplikasi baru. Istilah ini merupakan gabungan dari kata fake dan Instagram. Menurut Urban Dictionary, finstagram adalah akun Instagram kedua yang dimiliki seseorang selain akun utama alias rinsta (real Instagram), untuk mengunggah foto dan video yang hanya ingin dibagikan pada orang-orang terdekat. Sebuah definisi yang menarik karena berbanding terbalik dengan namanya; pada umumnya justru di finstalah seseorang bisa menjadi dirinya sendiri. Hal yang juga dialami Rini, yang mengaku membuat akun finsta karena rinstanya terasa palsu, " ... semua (harus) tampak baik-baik saja". 

Di tahun 2020 ini, Instagram sudah hadir selama 10 tahun dengan jumlah pengguna aktif sekitar 1 milyar orang.  Dengan bertumbuhnya jumlah pengguna, bertambah pula tekanan untuk menciptakan profil Instagram yang ideal. Seiring waktu, muncul berbagai aturan tidak tertulis tentang bagaimana sebaiknya seseorang menjalankan akunnya. Sebagai contoh, ada 'keharusan' untuk memajang foto-foto berkualitas tinggi, menggunakan identitas visual yang konsisten lewat filter, palet warna, atau font, menata urutan postingan dengan menarik, menyusun konten yang bermanfaat, juga menulis caption yang cerdas. Terkadang bahkan ada aturan untuk tidak mengunggah lebih dari satu postingan dalam sehari agar tak dianggap haus perhatian. Semua aturan ini terkadang bisa terasa menyesakkan jika harus selalu diikuti. Dari sinilah kebutuhan akan finsta pun bermula.

Finsta sebenarnya sudah beredar sejak beberapa tahun yang lalu. Majalah Elle pertama kali mengungkap fenomena finsta di pertengahan tahun 2015 di antara remaja puteri usia sekolah. Ya, finsta memang dikatakan lebih umum dimiliki oleh kaum wanita terutama yang berusia muda, barangkali karena tekanan sosial untuk terlihat cantik, modis, gaul, keren, atau cerdas lebih intens dibandingkan dengan pada pria. 

Finsta menjadi tempat yang aman untuk mengunggah apa saja yang diinginkan untuk audiens yang lebih terpercaya dan simpatik. Di sinilah biasanya orang bebas mengunggah selfie yang buram, curhatan panjang lebar, foto makanan ala kadarnya, meme yang sedang viral, juga momen keseharian yang lucu, memalukan, dan tidak sempurna. Jika rinsta seringkali digunakan sebagai media self-branding, finsta biasanya digunakan untuk menghindari mata publik yang suka menghakimi, calon employer, klien, rekan kerja, sekolah, juga orang tua. 

Finsta vs Rinsta

Foto oleh Callie Morgan di Unsplash

Finsta dan rinsta umumnya digunakan seseorang untuk menampilkan sisi diri yang berbeda. Jika rinsta milik Rini menonjolkan profesinya sebagai penulis, finstanya menampilkan perannya sebagai seorang ibu, istri, sahabat, keluarga, dan juga dirinya sendiri. Apa lagi perbedaan lain antara finsta dan rinsta?

Nama akun
Rinsta: menggunakan nama asli atau yang mudah dikenali.
Finsta: menggunakan julukan yang hanya diketahui orang-orang terdekat, terkadang lucu atau konyol.

Privasi
Rinsta: akun biasanya publik.
Finsta: akun diset privat.

Follower
Rinsta: bisa siapa saja dengan jumlah lebih banyak.
Finsta: hanya teman atau keluarga dekat, biasanya jumlahnya tak lebih dari dua digit.

Postingan
Rinsta: disiapkan matang-matang, dikurasi, diedit, dan diatur sedemikian rupa hingga menampilkan citra diri tertentu yang ingin ditampilkan untuk publik.
Finsta: ditampilkan apa adanya tanpa banyak filter, editing, dan pikir panjang. 

Tujuan
Rinsta: umumnya dibuat untuk tujuan tertentu, misalnya sebagai portofolio karya atau ruang berbagi ilmu.
Finsta: untuk berbagi momen keseharian dengan orang-orang terdekat.

Anak Punya Finsta?

Foto oleh Pixabay di Pexels

Jika anak kita memiliki akun Instagram, ada kemungkinan bahwa yang ditunjukkannya pada kita, orangtuanya, adalah akun rinsta. Apakah kita perlu khawatir jika anak kita memiliki finsta yang tidak kita ketahui?

Di satu sisi, finsta anak menunjukkan beberapa sisi positif yang patut kita hargai.
  • Anak sudah memahami konsep privasi di media sosial, yaitu mampu membedakan mana hal yang bisa dibagikan untuk orang banyak dan mana yang sebaiknya hanya ditunjukkan pada orang-orang terdekatnya.
  • Anak memiliki saluran untuk menjadi diri sendiri di tengah orang-orang yang menerima dirinya apa adanya, sehingga ia tidak terbebani untuk selalu menampilkan citra diri yang sempurna di depan publik.

Di lain sisi, bukan tidak mungkin finsta juga anak digunakan untuk menampilkan perilaku negatif yang tidak disetujui orangtua.

Apa yang perlu dibicarakan orangtua dengan anak seputar finsta?
  • Resiko keamanan. Meskipun finsta umumnya diset privat, bukan tidak mungkin foto-foto anak akan tersebar keluar. Siapa pun yang memiliki akses bisa mengambil screenshot dan menyebarkannya ke khalayak umum. Kejadian semacam ini disebut sebagai finsta snitches; bisa terjadi misalnya ketika ada perselisihan antara anak dengan followernya, atau jika finsta disusupi oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 
  • Circle of trust. Ajarkan kepada anak tentang pentingnya mengelilingi diri mereka dengan orang-orang yang terpercaya, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Merekalah orang-orang yang akan menerima anak apa adanya, menjadi tempat yang aman bagi anak untuk mengekspresikan diri.
  • Perilaku bertanggung jawab. Tanamkan pada anak untuk selalu menjalankan perilaku yang bertanggung jawab, dengan atau tanpa terlihat orangtua dan figur otoritas lainnya.
  • Citra diri. Diskusikan dengan anak tentang pentingnya menjadi diri sendiri. Anak yang sedang dalam pencarian identitas diri rentan terpapar pada tekanan sosial untuk tampil mengikuti tren atau cetakan kepribadian yang dianggap ideal di mata publik. Ajarkan pada anak bahwa mereka pun boleh tampil konyol di akun Instagram mereka dan tidak selalu perlu finsta untuk menunjukkan sisi kehidupan mereka yang riil.
Jangan lupa untuk selalu menciptakan ruang komunikasi yang terbuka agar anak tidak merasa perlu menyembunyikan sesuatu dari kita, orangtuanya.


Pada akhirnya, memilih untuk membuat finsta atau tidak ada di tangan kita. Tetap patuhi rambu-rambu keamanan dan etika dalam bersosial media, dan ingatkan diri dan keluarga untuk selalu berbahagia menjadi diri sendiri, baik di dunia nyata maupun di dunia maya!

Posting Komentar

0 Komentar