Kenali Parental Control di Aplikasi Layanan Streaming


Apa yang Mama paling khawatirkan ketika anak mengonsumsi konten dari internet? Terpaan konten negatif barangkali menjadi sumber kecemasan utama orangtua. Khawatir anak mengonsumsi konten yang mengandung kekerasan, pornografi, atau tontonan yang tak sesuai usianya. Kecemasan itu kian meningkat seiring dengan popularitas aplikasi layanan streaming yang terus meningkat. 

Suka tak suka, aplikasi layanan streaming menjadi oase di tengah kualitas tayangan televisi yang tak kunjung membaik. Pilihan tayangan yang beragam dan kemerdekaan untuk menikmatinya kapan saja di mana saja membuat aplikasi ini disambut meriah. 

Semakin banyak keluarga yang menggunakan layanan streaming untuk memenuhi kebutuhan hiburan mereka. Dikutip dari Parents, sebuah studi oleh perusahaan layanan digital Vindicia dari nScreenMedia yang dirilis pada Maret 2019 menunjukkan,70 persen rumah tangga di Amerika Serikat setidaknya berlangganan satu layanan streaming. Rata-rata pelanggan Amerika menonton 3,4 layanan streaming.

Tren serupa juga terlihat di Indonesia. Survey yang dilakukan oleh Nakono menunjukkan, jumlah pelanggan streaming aktif Netflix di Indonesia diperkirakan akan mencapai 906,8 ribu pada 2020. Meningkat 806,8 persen dibandingkan tahun 2017 sebanyak 94,98 ribu. 

Anak-anak tak luput menjadi target pasar mereka. Beragam pilihan tayangan anak juga tersedia. Perlu pengaturan agar anak tidak terpapar tayangan-tayangan yang tidak sesuai usianya. Oleh karenanya parental control menjadi salah satu fitur yang terus dikembangkan oleh pengembang aplikasi layanan streaming ini.

Parental control merupakan upaya agar pengalaman menggunakan internet anak tetap aman, menyenangkan, dan produktif. Caroline Knorr dari Common Sense Media menyebut, parental control hanya salah satu cara untuk membantu anak belajar membuat pilihan yang tepat dan mengatur waktu layar secara mandiri. Parental control bisa bekerja dengan baik jika orangtua membicarakannya secara terbuka dan jujur dengan anak. Bukan digunakan sebagai perangkat untuk memata-matai anak. Mereka perlu mendapat penjelasan mengapa orangtua membatasi aksesnya terhadap beberapa hal.

Parental control di setiap aplikasi streaming memiliki fitur yang berbeda-beda. digitalMamaID merangkum fitur-fitur parental control yang ada di empat aplikasi layanan streaming yang telah hadir 
di Indonesia.


Youtube Kids


Youtube Kids diluncurkan Google di Indonesia pada 2018 lalu. Aplikasi ini adalah jawaban Google atas kekhawatiran orangtua yang tak ingin anak-anaknya terpapar konten video dewasa. Video yang direkomendasikan Youtube Kids bebas dari konten dewasa dan tidak mengandung iklan. Aplikasi ini juga mempunyai fitur parental control sehingga orangtua bisa mengendalikan tayangan apa saja yang bisa ditonton anaknya.

Pengguna masuk ke aplikasi ini menggunakan akun Google. Aplikasi akan meminta pengguna melakukan verifikasi untuk memastikan pemegang kendali konten dan pengaturannya berada di tangan orangtua.


Fitur penting:

  • Satu email pengguna bisa digunakan untuk membuat sampai delapan profil yang berbeda. Ini bermanfaat jika satu perangkat digunakan bersama-sama. Profil tersebut juga berisi informasi tahun kelahiran anak. Nantinya konten-konten yang direkomendasikan disesuaikan dengan usia anak.
  • Orangtua bisa mengatur konten apa saja yang bisa dilihat oleh anak. Konten yang dilihat bisa berdasarkan rekomendasi sesuai kelompok umur atau bisa juga atas persetujuan orangtua. Untuk mencegah agar tidak ada konten tidak sesuai umur yang lolos, maka orangtua bisa mematikan fitur pencarian. 
  • Fitur penting yang bisa dimanfaatkan orangtua ialah timer. Orangtua bisa mengatur berapa lama anak bisa menggunakan aplikasi ini. Aplikasi akan terkunci otomatis jika telah mencapai batas waktu dan hanya orangtua yang bisa membukanya. Tersedia pilihan dari satu hingga 60 menit.


Catatan: 

Youtube Kids diklaim cocok untuk anak berusia empat tahun ke atas. Namun Common Sense Media merekomendasikan Youtube Kids untuk anak berusia tujuh tahun atau lebih. Alasannya, untuk melindungi anak dari komersialisme dan potensi melihat video yang tidak pantas, atau saat menonton video bersama anak yanglebih kecil, sebaiknya menunggu sampai anak sedikit lebih dewasa.  


Netflix


Netflix menjadi salah satu penyedia layanan streaming yang mendapat sambutan meriah di Indonesia. Salah satunya karena koleksi tontonannya yang sangat beragam. Mulai dari dokumenter, film, serial dengan rentang usia target pasar yang luas. 

Netflix menyediakan beberapa pengaturan yang bisa dimanfaatkan orangtua untuk memastikan tayangan yang aman bagi anak-anak. 


Fitur penting:

  • Orangtua bisa membuat PIN untuk setiap profil pengguna. Dengan begitu, anak hanya bisa mengakses profilnya sendiri dan tidak bisa mengubah batasan konten.
  • Parental control bisa diaktifkan melalui aplikasi Netflix, namun orangtua bisa mendapatkan lebih banyak opsi saat menelusuri akun di browser web.
  • Orangtua bisa mengatur rating tontonan yang sesuai dengan usia anak. Misalnya tayangan untuk usia enam tahun ke bawah, tayangan dengan bimbingan orangtua, atau tayangan untuk semua umur.
  • Orangtua bisa mengaktifkan Netflix Kids jika menginginkan anak bisa berinteraksi di Netflix secara mandiri. Netflix Kids menawarkan interface yang lebih sederhana dan mencegah akses ke pengaturan.
  • Orangtua bisa membatasi tayangan dengan judul tertentu tanpa memperhatikan ratingnya. Pengaturan itu bisa diaktifkan dengan membuka akun dan memilih profil mana yang ingin dilakukan pemblokiran judul tertentu. Lalu ketik judul apa yang ingin diblokir. Fitur ini penting ketika orangtua menilai tayangan anak yang dimaksud tidak cukup aman. Misalnya saja film kartun yang masih mengandung banyak adegan kekerasan.


Catatan:

Common Sense Media mencatat, salah satu kekurangan tayangan Netflix ialah kurangnya kartu peringatan pada awal tontonan. Tidak ada detail peringatan yang disediakan di awal tayangan yang mengandung konten yang menantang. 


Iflix


Iflix mempunyai Kid’s Section yang berisi semua tontonan anak-anak, seperti kartun, film animasi terbaru, dan semua konten untuk anak-anak berusia 12 tahun ke bawah.

Iflix mengkategorikan tayangannya menjadi  empat kelompok. Little Kids untuk semua anak termasuk usia 2-6 tahun, Older Kids untuk anak usia 7 tahun ke atas, Teen untuk usia 14 tahun ke atas, dan Adult untuk tayangan dewasa.

Parental control yang disediakan Iflix memungkinkan orangtua mengkategorikan setiap konten yang ditonton sesuai dengan usia anak-anaknya. 

Fitur penting:

  • Pengaturan tayangan dilakukan dengan memberlakukan parental control pada profil yang diinginkan orangtua
  • Orangtua bisa membuat PIN berupa gabungan huruf dan angka, maksimal 12 karakter. Hal ini agar anak tak bisa mengubah pengaturan.
  • Orangtua bisa memilih rating apa yang akan diterapkan pada profil anak sehingga menentukan tayangan apa saja yang bisa diakses.


Catatan:

Selain penerapan kategori itu, belum tersedia cara untuk memblokir tayangan atau judul tertentu.


Amazon Prime Video


Amazon Prime Video adalah layanan video dari Amazon.com. Sama seperti layanan video online lainnya, tidak semua konten video ramah untuk anak. Parental control memungkinkan orang tua untuk menetapkan batasan tayangan berdasarkan per perangkat. Parental control bisa diaktifkan di menu pengaturan.


Fitur penting:

  • Memungkinkan orang tua untuk menetapkan batasan tingkat peringkat tertentu berdasarkan per perangkat.
  • Orangtua bisa membuat PIN untuk mengatur tayangan yang ditonton. Jika tidak ingin anak mengubapengaturan parental control, maka jangan membagi PIN kepada siapapun, terutama pada anak.
  • Orangtua bisa menambahkan PIN untuk mencegah pembelian video yang tidak sah.


Catatan:

Common Sense Media menyebut, meskipun anak-anak tidak dapat mengakses konten terbatas tanpa PIN orangtua, anak-anak tetap dapat membaca deskripsi dan melihat gambar film di layar pratinjau yang mungkin tidak sesuai. Organisasi nirlaba itu merekomendasikan Amazon Prime untuk anak di atas 9 tahun.

Mengaktifkan parental control bisa jadi alat bantu mengurangi kekhawatiran Mama agar anak terhindar dari tayangan yang tidak sesuai. Meski begitu tetap perlu proses dan komunikasi yang terbuka agar anak bisa berinteraksi online secara bertanggung jawab dan mandiri. Setuju, Mama?

Posting Komentar

0 Komentar