Panduan Aman Berinteraksi Saat Pandemi


Apa yang paling dirindukan selama pandemi ini? Ngopi di café favorit, nonton bioskop, jalan-jalan ke mal, berkunjung ke rumah saudara, atau sekadar bisa cipika-cipiki dengan teman?

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau tahun 2020 akan banyak dihabiskan di rumah saja. Pandemi COVID-19 mengharuskan para pekerja memindahkan mejanya di rumah. Sekolah dan kampus ditutup, pelajar dan mahasiswa belajar dari rumah. Tiga bulan berlalu, ternyata selain virus, stres menjadi musuh tambahan yang membuat kewalahan. 

Perasaan terasing, bosan, cemas, dan galau tidak hanya dirasakan orang dewasa. Anak-anak juga mengalaminya. Kalau seisi rumah stres, gawat juga, ya!

Situasi saat ini memang sangat menantang. Penularan COVID-19 hanya bisa ditekan jika kita membatasi kontak dengan orang lain. WHO telah memberi sejumlah panduan untuk mencegah infeksi dan menekan penularan COVID-19, diantaranya menjaga jarak fisik setidaknya satu meter saat berinteraksi, tidak bepergian, dan menjauhi kerumunan. Dengan begitu, tinggal di rumah saja menjadi cara paling aman untuk melindungi diri dan orang lain dari infeksi virus ini. 

Namun, praktiknya sering tidak mudah. Semakin lama, kebosanan sulit dibendung. Meski sejumlah daerah di Indonesia mulai melonggarkan aturan beraktivitas di luar rumah, tapi kondisinya belum sepenuhnya aman. Anak-anak masih harus belajar dari rumah lebih lama. Bagaimana mengatasi kejenuhan ini?

Rumah bukan penjara

Manusia sebenarnya memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Ketika seseorang memahami pentingnya tetap tinggal di rumah, seharusnya hal ini bisa menjadi alasan untuk bertahan. Dosen Psikologi Universitas Negeri Surabaya Satiningsih mengatakan, ini bukan soal tidak boleh berinteraksi dengan orang lain, tetapi ada bahaya yang mengancam saat interaksi dilakukan secara langsung. 

Menurut Satiningsih, pikiran yang menganggap berada di rumah saja akan menghambat berbagai hal perlu dibuang jauh-jauh. “Harus diingat, rumah kan bukan penjara. Masih bisa beraktivitas tetapi di dalam rumah. Tetapi situasi sekarang ini kan belum jelas sampai berapa lama semua ini diperlukan. Itu yang jadi persoalan,” katanya saat berbincang dengan digitalMamaID, Selasa (30/6/2020).

Ia menjelaskan, situasi saat ini membutuhkan fleksibilitas agar mampu mengikuti perubahan-perubahan yang diperlukan. Tidak bisa terpaku pada kebiasaan-kebiasaan lama. “Kalau mau berubah ya harus belajar,” ujarnya.

Kenali karakter 

Salah satu hikmah dari pandemi ini, waktu berkumpul bersama keluarga semakin banyak. Sesuatu yang sulit dilakukan pada hari yang biasa. Menurut Satiningsih, ini waktu terbaik untuk belajar mengenali karakter setiap anggota keluarga. Ada yang senang bersosialisasi dengan banyak orang, ada yang penyendiri. 

Ini juga kesempatan bagi orangtua untuk menggali lebih jauh bakat anak. Orangtua bisa mengetahui aktivitas apa yang disukai anak sehingga orangtua bisa membantu mencari kegiatan yang diperlukan anak.

“Peran orangtua harus mengenali karakter anak-anaknya, mengenali kelebihan dan kekurangannya. Apalagi yang anaknya mulai remaja. Bisa mulai belajar observasi bakat anak dan harus ngapain selama di rumah ini,” tuturnya.

Pilih aktivitas yang sesuai

Aktivitas yang tepat menjadi kunci agar terhindar dari stres. Ini tidak hanya berlaku bagi anak saja, orang dewasa juga demikian. Orangtua yang sedang stres akan berdampak pada anak-anaknya. Maka itu, Satiningsih menekankan pentingnya komunikasi yang baik antar anggota keluarga. 
“Sudah banyak sekarang yang konsultasi ke psikolog karena depresi (selama pandemi). Biasanya karena orangtua tidak peka maunya anak, sementara anak tidak bisa menyampaikan keinginannya kepada orangtua. Jadinya enggak ketemu,” kata Satiningsih.

Orangtua bisa membantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan karakternya. Anak yang senang bergaul bisa dicarikan aktivitas yang melibatkan orang banyak tetapi tetap aman. Misalnya lewat berbagai pertemuan virtual. Orangtua juga bisa berperan aktif menggerakkan komunitasnya menciptakan berbagai kegiatan yang menarik. “Misalnya dengan sesama orangtua murid di sekolah bisa membuat agenda bersama. Acara-acara yang biasanya dilakukan lewat tatap muka bisa dipindahkan ke ruang virtual dengan keseruan yang sama.”

Teknologi yang ada saat ini juga telah menyediakan banyak platform untuk beraktivitas secara virtual. Tak hanya untuk berkomunikasi, internet juga menjadi tempat belajar yang luas. Berbagai pelatihan daring bisa diikuti, mulai dari yang gratis sampai berbayar. Tinggal memilih bidang apa yang diminati. “Itulah pentingnya mengenali bakat anak. Agar aktivitasnya sesuai dengan yang dia sukai,” katanya.
Satiningsih mengingatkan agar orangtua tidak menyerah jika pelatihan daring yang diinginkan ternyata berbayar cukup mahal. “Bisa dengan mencari komunitasnya. Anak saya tidak jadi ikut pelatihan yang diinginkan karena biayanya cukup mahal. Tetapi ternyata dia berkenalan dengan teman yang mengikuti pelatihan itu. Akhirnya mereka berbagi ilmunya,” tuturnya.

Foto oleh Gustavo Fring dari Pexels

Indoor atau outdoor? 

Pertemuan virtual masih dinilai sebagai opsi interaksi sosial yang paling bertanggung jawab selama pandemi. Beraktivitas di luar rumah bisa dilakukan tetapi harus dengan cara yang aman. Dr. Kelly Michelson, Direktur Pusat Bioetika dan Medis Kemanusiaan di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern, Feinberg School of Medicine mengatakan, sebagian besar penelitian menunjukkan seseorang cenderung tidak akan tertular atau menularkan virus jika berada di luar, mengenakan masker dan menjaga jarak dari yang lain.

Sebaliknya, beraktivitas di dalam rumah tak selalu aman. Misalnya saja mengadakan acara masak dan makan bersama di rumah, orang-orang menyentuh peralatan dan makan dari wadah yang sama justru lebih berisiko menyebarkan virus ketimbang berjalan-jalan di luar ruangan dengan menjaga jarak.

Patricia Rieker, seorang sosiolog medis di Boston University mengatakan, pertemuan empat mata lebih aman daripada berkelompok. Rieker mencontohkan dirinya sendiri yang mengundang seorang teman ke area luar gedung apartemennya pada akhir pekan. Sebelumnya ia telah menyeka kursi yang digunakan. Mereka duduk terpisah sekitar 10 kaki dan menggunakan masker. Ia juga menjaga agar temannya berada di area umum tanpa harus masuk ke rumahnya. “Butuh waktu 45 menit untuk mempersiapkan hal itu terjadi dengan aman. Anda tidak dapat melakukan cara-cara itu secara spontan,” katanya seperti dikutip dari Time.


 

Pandemi belum usai, sabar dulu ya Mama! Meski di rumah saja, semoga kebahagiaan tetap tercipta.  

Posting Komentar

0 Komentar