Tips Memotivasi Anak Belajar Online di Rumah



Pandemi masih terus berjalan. Pada puncaknya, lebih dari 1,5 miliar siswa di seluruh dunia telah mengalami dampak penutupan sekolah, termasuk di sebagian besar daerah di Indonesia. Di situasi yang masih tidak menentu ini, anak-anak kita kemungkinan besar masih akan menjalani proses belajar di rumah selama beberapa bulan lagi. Karena itu, sebagai orangtua kita perlu menyiapkan amunisi yang cukup untuk terus memotivasi anak belajar online di rumah dengan segala tantangannya.  

Anak yang tidak memiliki motivasi belajar biasanya akan menunjukkan tanda-tanda kebosanan, mengantuk, pasif, dan lebih suka melakukan kegiatan lainnya. Apa yang dapat kita lakukan sebagai orangtua untuk membangkitkan motivasi anak untuk belajar di rumah? Berikut beberapa tipsnya.

1. Membangun komunikasi yang terbuka

Bagaimana respon anak terhadap situasi belajar saat ini? Si kompetitif mungkin merindukan suasana berlomba-lomba mendapat nilai terbaik di sekolah, adapun si ramah merindukan suasana belajar berkelompok bersama teman-temannya.

Robert Jenkins, Global Chief of Education badan pendidikan UNICEF, menekankan pentingnya mendorong anak untuk mengekspresikan perasaan mereka pada orangtua secara bebas. Jika anak sulit menyatakan perasaan dengan kata-kata, Mama bisa mendorong mereka untuk menggunakan gambar atau media lainnya. Lakukan proses check in secara berkala untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka, sejauh mana kemajuan mereka, apa yang ingin mereka capai, dan apa yang mereka butuhkan dari kita sebagai orangtua untuk mendukung proses belajar di rumah.

2. Menyusun rutinitas bersama

Jenkins juga menyatakan bahwa adanya rutinitas dan struktur sangatlah penting untuk proses belajar anak. Jika biasanya kedua hal ini diatur oleh pihak sekolah, saat anak belajar online di rumah, mereka bisa diajak untuk menentukan rutinitas mereka sendiri. Perasaan bahwa mereka turut memegang kendali akan membuat anak lebih termotivasi.

Mama bisa duduk bersama anak untuk membicarakan jadwal harian mereka, yang sebaiknya tidak hanya mencakup pelajaran dari sekolah, tetapi juga waktu bermain, membaca, dan mengerjakan aktivitas rumah tangga. Jika anak belum terbiasa dengan proses pembelajaran secara online, Mama bisa memulai dengan sesi-sesi belajar singkat sekitar 10 menit, kemudian secara bertahap menambah durasinya.

Di lain sisi, orangtua juga perlu bersikap fleksibel dalam menerapkan jadwal. Dr. Linda Carling dari Johns Hopkins University School of Education Center for Technology mengatakan bahwa ketika anak terlihat lelah, bosan, atau frustasi saat belajar online, orangtua bisa menawarkan jeda atau aktivitas lain sebagai pengganti. Sebaliknya, ketika anak terlihat antusias terhadap topik tertentu, sebaiknya ia juga diberi waktu dan kesempatan lebih banyak untuk mendalami topik tersebut.

Kejadian dan aktivitas sehari-hari yang berlangsung di rumah bersama anggota keluarga yang lain juga dapat menjadi sumber belajar yang baik bagi anak, misalnya dalam pengembangan life skills. Jadi, tak perlu kaku dalam mendefinisikan jam belajar dengan anggapan bahwa anak hanya belajar ketika mengerjakan tugas dari sekolah.

3. Membantu anak fokus


Menyediakan lingkungan yang kondusif 

Dr. Carling menyebutkan bahwa orangtua sebaiknya membantu mengurangi hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi belajar anak saat belajar di rumah, baik yang berupa visual, suara, maupun barang-barang yang dapat mengalihkan perhatian. Jika memungkinkan, Mama bisa menyediakan area belajar yang berbeda dengan yang biasa digunakan anak untuk bermain atau menonton televisi. Namun, sebuah sudut di meja makan atau ruang keluarga yang telah dirapikan dan ditata ulang pun umumnya sudah mencukupi.


Membuat checklist

Membuat daftar tugas yang perlu dikerjakan anak setiap hari juga bisa membantu anak untuk fokus pada proses belajarnya. Bekerjasamalah dengan guru untuk menyusun daftar pekerjaan yang perlu dilakukan anak, baik itu berupa menonton video edukasi, menulis, atau mengumpulkan tugas. Daftar semacam ini juga bisa membantu anak untuk melihat kemajuannya sendiri: berapa banyak yang sudah ia kerjakan dan sejauh mana ia masih harus melangkah. Anak yang lebih besar umumnya sudah mampu membuat daftar ini tanpa bantuan, orangtua terkadang hanya perlu mengingatkan anak untuk menyelesaikannya tepat waktu.

4. Merayakan keberhasilan

Hargailah proses belajar anak dengan merayakan keberhasilan-keberhasilan kecilnya. 
  • Pajang hasil karya terbaik anak untuk dinikmati seluruh anggota keluarga.
  • Berilah penghargaan ketika anak berhasil menyelesaikan tugasnya, baik itu berupa kalimat pujian, highfive, stiker, cap bintang, maupun jatah main ekstra. 
  • Jadwalkan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang akan ditunggu-tunggu anak seperti movie night bersama keluarga atau pertemuan virtual dengan teman-teman sekelasnya.

5. Memberi ruang bergerak

Aktivitas fisik berdampak positif terhadap fungsi otak dan proses kognisi yang diperlukan anak untuk belajar. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), aktivitas fisik pada anak sebaiknya dilakukan setidaknya 60 menit setiap hari. Beri kesempatan anak untuk melakukan aktivitas fisik sebelum mereka diharapkan untuk berkonsentrasi pada proses belajar online. Sebagian anak dapat belajar dengan lebih fokus dalam kondisi berdiri. Pertimbangkan untuk menyediakan meja tinggi (standing desk) agar anak dapat berdiri dan memiliki ruang gerak lebih banyak ketika belajar.


6. Memberi teladan

Pilihlah satu bidang yang ingin Mama kuasai dengan baik, entah itu memasak, menata rumah, menulis, ataupun berbisnis, dan biarkan anak melihat bagaimana Mama terus belajar dan memperbaiki diri. Selain membangun atmosfer belajar di rumah, hal ini juga akan menanamkan pada diri anak bahwa belajar adalah sebuah proses sepanjang hidup, yang tidak akan berhenti saat ia menyelesaikan jenjang persekolahan. Jika melihat orangtuanya bersemangat menekuni suatu bidang ilmu, tentu anak pun akan terpantik motivasi belajarnya.

Bagaimana jika saya tetap gagal?

Jika orangtua sudah berupaya sebaik mungkin dan anak ternyata tetap tidak termotivasi untuk belajar online di rumah, ada beberapa tips dari Common Sense Media yang patut dicoba:
  • meminta bantuan guru favorit atau sahabat dekat anak untuk membangkitkan motivasinya, 
  • menyelidiki isu lain yang mungkin menghambat proses belajar anak seperti problem kesehatan fisik dan mental,
  • menurunkan ekspektasi dan berempati dengan kondisi anak.

Tetap sabar dan semangat mendampingi anak-anak belajar online di rumah ya, Mama!

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Ini yang membuat mama2 yang anaknya banyak akan lbh sulit menyiapkan kondisi dan lingkungan yg nyaman ketika belajar.karena belajar di rumah gak bisa serius,blm lg adik2nya ganggu dan ngajak main..thnx infonya tugas orgtua harus lebih maksimal lg.

    BalasHapus