Yang Perlu Diketahui Orang Tua Sebelum Memasang Parental Control


Dunia digital mengandung banyak resiko yang bisa menimbulkan dampak negatif bagi anak jika dibiarkan tanpa pengarahan, mulai dari kecanduan gawai, ancaman predator anakcyberbullying, konten pornografi atau kekerasan, hingga kabar hoaks. Salah satu cara untuk melindungi anak dari berbagai resiko tersebut adalah dengan memasang parental control, yaitu software atau fitur aplikasi yang dapat digunakan orang tua untuk memantau dan membatasi akses penggunaan gawai anak. Ada banyak aplikasi  parental control yang dapat kita temukan di pasaran. Namun, jangan buru-buru memasangnya. Baca dulu beberapa hal yang perlu diketahui orang tua sebelum memasang parental control di gawai anak berikut ini!

1. Menetapkan tujuan sesuai kebutuhan 

Evaluasi situasi dan kondisi keluarga kita saat ini, aspek apa yang ingin kita monitor dari penggunaan gawai anak? Apakah itu konten yang dilihat, durasi pemakaian, lokasi anak di luar rumah, atau semuanya? Ada banyak aplikasi parental control baik yang gratis maupun yang berbayar. Pertimbangkan dulu fitur-fiturnya, baca reviewnya, cek harganya, lalu pilih aplikasi yang sesuai kebutuhan (dan kantong), ya!

Contoh:
"Saya ibu bekerja, agak sulit memantau penggunaan gawai di rumah oleh anak-anak di pagi dan siang hari. Saya ingin memastikan mereka hanya menggunakan aplikasi untuk sekolah online di hari kerja, juga ingin melindungi mereka ketika browsing dari konten yang tidak sesuai usia."

2. Membuat kesepakatan bersama

Pastikan dulu anak memahami konten seperti apa yang tidak boleh dilihatnya (misalnya yang mengandung pornografi dan kekerasan), aplikasi apa yang boleh diunduh, juga durasi dan waktu penggunaan gawai yang diperbolehkan. Salah satu cara untuk mengasah komitmen dalam hal ini adalah dengan membuat perjanjian penggunaan gawai. Jangan lupa, Mama dan Papa juga harus kompak menjalankannya. Aplikasi parental control pada dasarnya hanyalah alat bantu untuk memantau kesepakatan yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Contoh:
"Di hari sekolah Kakak hanya boleh memakai gawai untuk mengikuti sekolah online, ya. Nanti di hari Sabtu Kakak boleh deh main game 1 jam."

3. Komunikasi dengan anak

Orang tua sebaiknya tidak memasang aplikasi parental control secara diam-diam karena hal ini bisa mencederai kepercayaan anak terhadap orang tua. Perlu diingat, komunikasi dan kepercayaan adalah koentji pengasuhan era digital. Katakan dengan jujur bahwa kita memasang aplikasi untuk memantau penggunaan gawainya, dan jelaskan pula alasannya.

Contoh:
"Mama memasang aplikasi ini untuk membantu Kakak melatih kebiasaan memakai gawai yang sehat. Mama ga ingin Kakak sampai kecanduan gawai seperti anak yang kita lihat di berita kemarin itu, lho... "

4. Evaluasi berkala

Menggunakan parental control sama sekali tidak berarti "pasang lalu lupakan". Orang tua sebaiknya secara rutin memeriksa hasil pemantauan, mengevaluasi sejauh mana kesepakatan dijalankan, apakah anak merasa nyaman dengan adanya pengawasan, juga hal-hal lain yang perlu diperbaiki bersama-sama.

Hasil pemantauan sebaiknya jangan langsung dipakai untuk menghakimi dan menyalahkan anak.  Akan lebih baik jika temuan kita dijadikan sebagai pintu masuk untuk berdiskusi dengan anak seputar perilakunya dalam memakai gawai. 

Contoh:
"Kak, kak, kemarin Mama lihat kamu main TikTok sampai 1 jam lebih, ngapain aja sih? Ada yang lagi seru, ya? Mama pengen tau juga, doong..."

5. Memberi teladan

Sebelum kita memberikan bermacam batasan untuk anak, kita juga perlu menengok kebiasaan diri sendiri. Bagaimana pun, anak mulai membentuk kebiasaan memakai gawainya sejak dari dalam rumah, dengan perilaku orang tua sebagai salah satu teladannya. Sudahkah kita memberikan contoh bagaimana memakai gawai dengan sehat? 

Contoh:
"Minggu pagi adalah waktu untuk aktivitas keluarga bersama-sama. Tidak ada yang boleh memakai gawai sampai jam makan siang kecuali dalam kondisi darurat."

6. Memahami celah software

Pada dasarnya tidak ada perangkat software yang benar-benar sempurna. Selalu saja ada celah-celah yang bisa ditembus dengan cukup usaha. Anak-anak yang lebih tua bisa dengan mudah mencari di Google bagaimana cara mengakali software yang sudah kita pasang di perangkatnya. Para penyedia konten yang tidak bertanggung jawab pun ada pula yang berusaha menyelipkan konten dewasa di tayangan anak-anak, seperti yang terkadang kita jumpai di YouTube. Inilah pentingnya tidak menjadikan parental control sebagai satu-satunya sarana untuk melindungi anak di dunia digital.


7. Memahami tujuan akhir

Cepat atau lambat, suatu saat kita tentu harus melepas parental control dan membiarkan anak berjalan mandiri di dunia digital. 

Diskusikan dengan anak kapan parental control akan dicabut (atau dipasang kembali) dari gawainya, misalnya ketika anak mencapai umur tertentu, mampu menunjukkan kebiasaan baik yang disepakati, atau tidak melanggar kepercayaan setelah sekian lama. 

Secara bertahap kita harus membangun kemampuan self-regulation pada anak ketika menggunakan gawai, yaitu anak memiliki filter internal dalam dirinya untuk membatasi konten yang dilihatnya, 
memahami batasan yang sehat dan aman ketika memakai gawai, juga mampu memilih aktivitas yang produktif dengan gawainya.


Demikianlah beberapa hal yang perlu diketahui orang tua sebelum memasang parental control di gawai anak. Parental control hanyalah sepotong software, tidak akan bisa menggantikan pengasuhan yang baik. Edukasi, pendampingan, konsisensi, komunikasi yang terbuka, kepercayaan, dan teladan dari orang tua adalah kunci pengasuhan di era digital. 

Posting Komentar

0 Komentar