Literasi Digital, Membangun Digital Citizenship dari Rumah

Sejak sekolah ditutup untuk mencegah penyebaran wabah COVID19, anak-anak harus membiasakan diri sekolah di rumah. Anak-anak, juga Mama tentunya, secepat kilat harus bisa menggunakan gadget, aplikasi, tools, dan menyediakan sambungan internet yang menjadi penopang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pandemi telah mendorong transformasi digital terjadi lebih cepat. Sudah siapkah kita?

Pandemi datang tiba-tiba. Sekolah ditutup, guru dipaksa untuk segera menyiapkan metode belajar paling tepat selama PJJ. Metode belajar bisa berbeda antar sekolah satu dengan lainnya. Yang pasti, proses belajar mengajar harus tetap berjalan tanpa ada pertemuan tatap muka. 

Mau tak mau, Mama harus mengikutinya. Mulai dari menyiapkan gawai, mengunduh aplikasi, mempelajari tools, hingga memenuhi ketentuan format pengiriman tugas. "Kebanyakan tugasnya harus divideokan, nanti kirim lewat Whatsapp ke guru," kata Ida, seorang ibu di Bandung.

Terkadang ada pula kewajiban untuk "setor foto" di media sosial. Misalnya saja saat peringatan HUT RI ke-75. Orangtua diminta mengunggah foto anak yang sedang upacara atau hormat bendera di rumah. Unggahan itu disertai dengan tagar tertentu, serta mencantumkan nama anak, nama sekolah, juga kelas. Meski tampak seru, unggahan tersebut sebenarnya mengandung risiko.

Tidak semua menyadari bahayanya membagi data pribadi ke dunia maya. Memang apa yang salah dengan mengunggah foto anak yang tertawa riang? Identitas lengkap anak yang dibagi ke publik melalui dunia maya bisa dimanfaatkan oleh orang lain demi keuntungan pribadi. 

Sekarang, anak seperti harus sudah mempunyai identitas dunia maya. Untuk berbagai kepentingan belajar, anak dituntut sudah mempunyai alamat e-mail juga nomor HP sendiri. Ini sempat menjadi dilema tersendiri bagi Lucia, seorang ibu yang tinggal di Tangerang. Sebelumnya, ia ingin mengikuti patokan umum untuk memberi akses anak kepada gawai dan akun pribadi setelah berusia 13 tahun. Tapi dengan aktivitas belajar online yang semakin tinggi, semua harus terjadi lebih cepat.

Digital Citizenship

Literasi digital mendesak untuk dikuasai oleh para orangtua agar bisa membekali anak yang kini semakin akrab dengan gawai dan internet. Literasi digital bukan semata membuat anak lihai menggunakan gawainya. Lebih dari itu, literasi digital penting untuk membentuk digital citizenship, sebuah kemampuan untuk menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan efektif.

Sama seperti di dunia nyata, membentuk anak sebagai bagian dari masyarakat yang baik perlu contoh. Orangtua ialah role model bagi anak-anaknya. Mama dan papa punya mempunyai peran yang sama besarnya membentuk kebiasaan anak menggunakan komputer dan internet. Utamanya pada masa-masa seperti saat ini, saat di mana anak dan orangtua menghabiskan banyak waktunya di rumah, serta peran teknologi komputer dan internet yang semakin sentral dalam kehidupan sehari-hari. 

Nyaris semua sendi kehidupan kini tersentuh digitalisasi. Mulai dari pesan makanan, belanja online, transportasi, perbankan, komunikasi, belajar, dan hiburan. Anak perlu pengetahuan yang cukup saat mengarungi dunia maya. Bagaimana ia harus berperilaku di dunia maya agar aktivitasnya aman, tetapi juga memperoleh manfaat maksimal dari perkembangan teknologi.

Setidaknya ada lima hal yang harus Mama informasikan kepada anak saat berselancar di dunia maya, yaitu:  

1. Berbuat baik

Anak perlu didorong untuk menggunakan empati dan bersikap positif. Seperti di dunia nyata, anak harus memperlakukan oranglain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Sebuah prinsip yang juga berlaku di dunia nyata.

Anak perlu mendapat pengetahuan tentang cyberbullying. Bagaimana cara untuk menghindari dan mengatasinya juga perlu diketahui anak.

2. Keamanan

Anak perlu mengetahui bagaimana cara melindungi informasi pribadinya. Informasi pribadi apa yang boleh dan tidak boleh diketahui oleh publik. Ia harus memahami dampak dari membagikan informasi pribadi kepada publik.

3. Jangan percaya semua yang ada di internet

Penting bagi anak untuk menyadari bahwa tidak semua di dunia maya itu benar. Tidak semua pesan yang ia terima benar, orang yang memperkenalkan diri sebagai teman sebayannya bisa jadi seseorang yang sama sekali berbeda. Upaya penipuan juga tidak jarang terjadi untuk mendapatkan informasi tertentu melalui dunia maya.

Anak perlu menguasai kemampuan untuk membedakan informasi yang benar maupun tidak. Ia harus mempelajari bagaimana melindungi diri dari berbagai penipuan yang mungkin dilakukan melalui dunia maya.

4. Tahu mana yang harus dibagi atau disimpan

Internet memungkinkan kabar beredar dengan sangat cepat, baik kabar baik maupun buruk. Anak-anak perlu memahami apa yang mereka bagikan di dunia maya bersifat permanen. Apa yang yang mereka bagikan saat ini, bisa jadi memiliki konsekuensi negatif di masa mendatang.

Anak-anak perlu memiliki pemahaman dan mengerti cara untuk menjaga reputasi online mereka dengan memilah hal-hal yang bisa mereka bagikan di dunia maya dan hal yang harusnya menjadi konsumsi pribadi.

Anak perlu tahu tentang digital footprint. Semua hal di internet yang pernah kita unggah, termasuk foto, video, dan komentar yang kita tinggalkan akan menjadi jejak digital yang bisa ditelusuri oleh orang lain. 

Anak juga perlu memahami informasi pribadi ada yang bersifat privat dan publik. Informasi pribadi seperti alamat lengkap, nomor telefon, nama dan alamat sekolah, alamat email, semua hal itu termasuk informasi pribadi. Perlu dipikirkan masak-masak sebelum membagi informasi ini ke publik. Anak-anak perlu mengetahui konsekuensi dari oversharing atau terlalu banyak membagikan informasi pribadi di dunia maya.   

5. Etika dan hukum

Seperti halnya di dunia nyata, dunia maya juga mempunyai sejumlah aturan untuk melindungi penggunanya. Setiap platform mempunyai community guidelines yang harus dipatuhi oleh penggunanya. Anak harus memahami konsekuensi yang harus dipikul ketika melanggarnya. 

Di Indonesia, segala tentang informasi, transaksi elektronik, dan teknologi informasi secara umum diatur oleh Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). UU tersebut bahkan menjatuhkan hukuman pidana kepada pelanggarnya.  

Sumber belajar

Sebagai role model, tentu Mama juga Papa harus menjadi yang terdepan dalam mempraktikkan digital citizenship yang baik. Sulit mengajari anak berenang, jika Mama tak bisa berenang bukan? 

Meski tidak gampang, literasi digital harus dipelajari. Seperti halnya menyeberang jalan, meski berbahaya anak tetap harus belajar untuk bisa menyeberang jalan sendiri. Maka itu, Mama harus jadi yang terdepan menguasai literasi digital supaya bisa membantu anak mempersiapkan diri mengarungi dunia maya.

Ada beberapa sumber yang bisa menjadi rujukan Mama mempelajari literasi digital. Berikut tiga sumber yang bisa Mama gunakan:

1. Be Internet Awesome

Sebuah program yang diluncurkan Google bekerja sama dengan iKeepSafe, ConnectSafely, dan The Family Online Safety Institute. Tujuannya agar anak dapat memanfaatkan teknologi digital dengan percaya diri dan aman. Be Internet Awesome menyediakan kurikulum yang berisi lesson plan, aktivitas, worksheet dan resources berupa video dan game online interaktif yang dapat dimainkan anak.

2. Common Sense Education

Bagian dari Comom Sense, selain Common Sense Media dan Common Sense Kids Action, sebuah lembaga nirlaba yang menaruh perhatian pada pendidikan dan advokasi kepada keluarga untuk mempromosikan teknologi dan media yang aman untuk anak-anak. Common Sense Education menyediakan kurikulum digital citizenship terkait keseimbangan media dan well-being; privasi dan keamanan; jejak digital dan identitas; relationship dan komunikasi; cyberbullying, digital drama, dan ujaran kebencian; serta berita dan literasi media. Common Sense Media membagi kurikulumnya sesuai dengan kelompok umur, yaitu Grades K-2, Grades 3-5, Grades 6-8, dan Grades 9-12.

3. Internet Sehat   

Sebuah gerakan advokasi literasi digital yang digagas oleh ICT Watch. Di situsnya, Internet Sehat menyediakan sumber belajar yang berisi materi literasi digital, jug aterkait topik cybersecurity dan media sosial untuk advokasi publik. Berbagai buku dan panduan bisa diunduh gratis. Tersedia pula games yang bisa dicetak dan dimainkan di rumah.  Situs ini juga menyuguhkan film dokumenter Literasi Digital Indonesia: Netizen, Internet, dan Media Sosial yang bisa menjadi sumber belajar yang seru.

4. Literasi Digital

Situs Literasi Digital menyediakan koleksi buku tentang berbagai topik yag berkaitan dengan literasi digital. Buku-buku tersebut bisa diunduh gratis. Temanya sangat beragam, tidak hanya soal menggunakan internet yang aman tetapi juga topik lain berkaitan dengan topik lain seperti kewirausahaan, dan skill digital yang diperlukan saat ini. Tersedia pula sumber belajar berupa video literasi digital.

Pandemi ini telah mengubah gaya hidup kita semua. Transformasi digital bergulir lebih cepat dan kita dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat pula. Tapi, ini juga saat yang tepat untuk membangun digital citizenship pada anak. Saat semua keluarga kembali berkumpul di rumah seperti sekarang.

Posting Komentar

0 Komentar