3 Tipe Parenting Era Digital


Si sulung sekolah atau homeschooling? Si tengah pakai sepeda roda tiga atau balanced bike? Si adik tidur di boks bayi atau co-sleeping

Dalam keseharian, orang tua harus mengambil berbagai keputusan seputar pengasuhan anak. Di era digital, kemajuan teknologi telah menyebabkan para orang tua di seluruh dunia juga harus memikirkan posisi dan peran mereka dalam mendampingi anak-anak di dunia digital. Bukan keputusan yang mudah, ditambah lagi masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami cara terbaik untuk memaksimalkan dampak positif sekaligus meminimalisir dampak negatif teknologi bagi keluarga. 

Perkembangan dunia digital yang sangat cepat menyebabkan penelitian seputar resiko dan peluang berbagai bentuk media, teknologi, dan aplikasi berjalan tertatih-tatih. Belum selesai kita membahas tentang Minecraft dan Instagram, anak-anak kita sudah beralih ke Roblox dan TikTok. Setiap orang tua pasti memiliki harapan dan kekhawatiran tersendiri dalam menghadapi dunia yang berubah sangat cepat ini. Ada begitu banyak pertanyaan yang perlu dijawab seputar penggunaan teknologi bagi anak-anak, misalnya:


Dalam buku terbarunya, Parenting for a Digital Future, Sonia Livingstone dan Alicia Blum-Ross menyebutkan tiga tipe parenting era digital berdasarkan survey mereka pada lebih dari 2.000 orang tua di Inggris. Rasanya, hasilnya juga tak akan jauh berbeda jika survey dilakukan di Indonesia. Apa saja tiga tipe parenting tersebut?

1. Embrace (Merangkul)

  • Orang tua mencari dan memanfaatkan teknologi digital, baik untuk diri sendiri maupun untuk anak, dalam rangka memudahkan kehidupan sehari-hari serta meningkatkan keterampilan akademik dan profesional. 
  • Orang tua memposisikan diri dan keluarga di garis terdepan dalam penggunaan teknologi.
  • Resiko yang dihadapi adalah kurangnya dukungan, baik dari lingkungan sosial maupun dari sumber daya yang ada.

2. Balance (Menyeimbangkan)

  • Orang tua mendorong sebagian praktik penggunaan teknologi digital tetapi meninggalkan sebagian yang lain, seringkali berdasar situasi yang sedang dihadapi di depan mata. 
  • Orang tua bertindak secara aktif dan mengeluarkan usaha yang besar untuk menimbang-nimbang secara mendalam berbagai peluang dan resiko teknologi yang akan digunakan.
  • Resiko yang dihadapi adalah munculnya pertanyaan dan penyesuaian terus menerus sepanjang waktu, "Apakah yang saya lakukan sudah benar?"

3. Resist (Membendung)

  • Orang tua berusaha membendung serbuan teknologi digital ke dalam kehidupan keluarga.
  • Penyebabnya bisa dua hal:
    • reaktif - sebagai respon terhadap problem yang pernah dialami keluarga karena hadirnya teknologi
    • proaktif - dengan sengaja memprioritaskan aktivitas non-digital, melawan tekanan sosial dan komersialisasi.
  • Resiko yang dihadapi adalah munculnya rasa khawatir ketinggalan dari orang lain, baik dari sisi profesional maupun personal.

Apakah ada satu tipe parenting era digital yang lebih baik dari yang lain? Nyatanya, setiap keluarga memiliki perbedaan dalam nilai-nilai yang dianut, sumber daya yang mampu diakses, dan pengalaman yang pernah dijalani. Karena itu, jalan yang ditempuh oleh setiap keluarga pun akan unik satu dari yang lain. 

Kita memang mengenal beberapa prinsip pengasuhan era digital yang berlaku universal seperti menjadi teladan bagi anak, mengedukasi diri sendiri sebelum mengedukasi anak, membangun komunikasi yang terbuka, melindungi anak dari dampak negatif teknologi, serta mengarahkan aktivitas teknologi secara positif. Namun, saatnya kita semua mengakui bahwa ada berbagai cara untuk menjadi orang tua era digital, sebagian dengan dosis teknologi tinggi, dan sebagian lagi dengan dosis yang lebih rendah. 

Setiap keluarga selayaknya memulai perjalanan mereka di dunia digital dengan menentukan terlebih dahulu visi dan prioritas mereka. Tak lupa, sudah saatnya pula untuk saling menghargai pilihan, minat, dan nilai masing-masing keluarga. Tak ada gunanya saling menyalahkan, membuat yang lain merasa bersalah atas pilihan mereka. Mari saling mendukung dan mencari pijakan yang sama untuk bersama-sama membimbing anak-anak kita mengarungi era digital. 

Semangat, Mama!

Posting Komentar

0 Komentar