Tips Sehat Bermedia Sosial di Era Pandemi

Pandemi COVID-19 tak hanya memukul fisik manusia, tetapi juga kesehatan mental. Kehilangan pekerjaan, penghasilan yang berkurang, kewalahan dengan pembelajaran jarak jauh, kelelahan akibat bekerja di rumah yang tak kenal batas waktu, interaksi sosial yang terbatas hanya sebagian alasan yang membuat cemas dan khawatir. Media sosial kadang menjadi pelepas stres, tapi tak jarang justru menjadi pemicu utamanya. Lalu, bagaimana menggunakan media sosial yang sehat di era pandemi ini?  

Mama pernah merasa stres saat membuka media sosial? Di saat cemas -  merasa diri mengalami berbagai kemunduran - menyaksikan teman-teman tampak begitu ringan menghadapi pandemi ini. "Kenapa ya si A bisa tetap cantik dan enerjik meskipun harus nemenin anak belajar online dan bekerja?", "Wah si B masih bisa liburan, mungkin pekerjaannya tidak terdampak COVID", dan berbagai pikiran-pikiran yang berkecamuk. Tadinya main media sosial biar bisa tetap saling sapa dengan teman dan keluarga besar meski tidak ketemu, eh malah jadi bikin mood jelek dan semakin khawatir akan banyak hal.

Tanpa pandemi, sudah banyak penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara penggunaan media sosial dan kecemasan. Di masa pandemi ini, risiko itu meningkat drastis. Mengingat konsumsi internet, termasuk media sosial, meningkat tajam di era pandemi ini.

Studi terbaru menunjukkan, mereka yang online setidaknya 50 kali seminggu, memiliki kemungkinan tiga kali lebih tinggi merasa terisolasi secara sosial dibandingkan mereka yang online kurang dari sembilan kali seminggu. 

Hasil riset eMarketer menunjukkan, selama pandemi ini jumlah waktu yang dihabiskan orang dewasa mengakses media sosial meningkat, menjadi 82 menit sehari. Angka itu meningkat 7 menit dari tahun 2019. Hasil itu sekaligus mengubah prediksi yang sudah dibuat. Jika sebelumnya diprediksi waktu yang dihabiskan di media sosial pada 2019-2021 sekitar 76 menit per hari, kini prediksinya di angka 82 menit pada 2020, 80 menit pada 2021, dan 79 menit pada 2022.  

"Ironi dari media sosial adalah secara bersamaam dia bisa menyatukan orang dan memfasilitasi isolasi sosial sekaligus," kata Psikolog dari Delaware Valley University Audrey Ervin seperti dikutip dari Psycom.

Bukan Gambaran Utuh

Media sosial, Instagram, Facebook, Twitter, atau apapun itu, tidak bisa memberikan gambaran utuh atas seseorang dan apa yang dirasakannya. "Orang cenderung menampilkan hal-hal yang penting dalam hidup mereka," kata psikolog dari Stanford University Erin A. Vogel.

Seseorang bisa mengunggah sebuah foto sempurna yang menunjukkan betapa mewah liburannya dan mengabaikan segala hal buruk yang dialaminya hari itu. Gambar yang tampak sempurna ini yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental orang lain.

Vogel menyebut, banyak orang membuat perbandingan ke atas. Seseorang akan merasa dirinya buruk karena selalu merasa tidak lebih baik dari orang lain.

Media sosial juga mudah membuat orang tersesat dalam ruang gema negatif dan misinformasi. Begitu banyak informasi, juga ketidakpastian dan pendapat spekulatif yang beredar sehingga membuat pengguna sosial media "overthinking" bersama-sama. Tanpa jeda emosional, seseorang akan mudah kewalahan dan tidak berdaya.

Terlepas dari sisi negatifnya, media sosial juga bisa membantu kesehatan mental di era pandemi ini. Ketika pertemuan tatap muka tak lagi bisa dilakukan leluasa, media sosial bisa menghubungkan seseorang dengan lingkarannya. Media sosial mengatasi keterasingan selama pandemi ini.

Media sosial juga menjadi salah satu kekuatan untuk menggalang kekuatan bersama. Tidak heran jika banyak persoalan yang menjadi perhatian pemangku kebijakan setelah ramai dibicarakan di media sosial. Kekuatan inilah yang membuat media sosial masih terus relevan hingga kini.

Tips Bermedia Sosial yang Sehat

Kebiasaan bermedia sosial yang sehat wujudnya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Moderasi menjadi kunci, bagaimana media sosial mempengaruhi kehidupan pribadinya. "Jika seseorang terlalu sering menggunakan media sosial sehingga mengganggu kewajibannya atau menjadi merasa tertekan saat tidak dapat menggunakannya, itu bisa menjadi tanda penggunaan media sosial sudah menjadi masalah buat mereka," kata Vogel.

Berikut tips bermedia sosial sehat yang bisa Mama coba:

1. Mencari sumber informasi baru

Jangan terlalu mengandalkan informasi yang diunggah oleh orang lain. Selain hal itu bisa membuat kewalahan, informasi dari orang lain bisa lebih bias. Cobalah mengakses informasi dari sumber yang kredibel, bisa dengan berlangganan koran digital atau portal media yang terpercaya. Cara ini bisa menghilangkan kebisingan yang kerap menyertai penyebaran informasi di media sosial.

2. Menjalin komunikasi

Media sosial menjalankan fungsi terbaiknya saat melakukan apa yang menjadi tujuan awalnya, yaitu menjalin hubungan sosial. Baik itu membuat hubungan sosial baru atau mempertahankan pertemanan yang sudah terjalin. Gunakan media sosial untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang berarti bagi hidup Mama. Dengan begitu media sosial bisa membantu untuk mengatasi kesepian di masa pandemi ini.

3. Tetap aktif

Jika Mama sering muncul di Instagram, entah itu mengunggah foto, berikirm pesan, update profil, mengganti foto profil, atau memberi komentar, hal itu ternyata lebih baik bagi kesehatan mental ketimbang menjadi pengguna pasif. Dalam jumlah yang wajar, scrolling pada unggahan atau profil teman seperti tidak mendatangkan masalah. Namun, menjadi penjelajah pasif akan menyebabkan perasaan tidak terhubung sehingga membuat seseorang semakin merasa terasing.

4. Jangan segan memutuskan ikatan

Barangkali ada teman yang opini politiknya tidak menyenangkan, ada juga teman yang menurut Mama terlalu banyak mengunggah foto selfie. Biasanya ada saja teman yang unggahannya kerap membuat kita merasa tidak nyaman dan membuat kita tidak tahan setiap unggahannya melintas. Mama berhak untuk berhenti mengikutinya atau bisa juga menggunakan fitur lain yang bisa meminimalkan interaksi sehingga Mama tak perlu merasa kesal atau marah.

5. Buat batasan

Jika media sosial sudah mengganggu aktivitas Mama, ini saatnya untuk membuat batasan-batasan baru. Misalnya dengan mematikan notifikasi media sosial. Pasang smartphone pada mode diam atau tidak mengaktifkan internet saat sedang bekerja. Jika interaksi dengan keluarga atau orang terdekat sudah terganggu, batasi penggunaannya. Misalnya tidak membuka media sosial saat makan atau waktu keluarga lainnya. Batasi waktu layar secara, setidaknya tidak membuka media sosial sebelum tidur. Ini penting untuk menjaga kualitas tidur Mama.

6. Detoks media sosial

Mama bisa mengambil jeda yang cukup lama dari media sosial agar bisa beristirahat. Mama bisa kembali online dengan lebih bijaksana.

7. Pertahankan perspektif

Ingatlah selalu, apa yang kita lihat di di media sosial bukanlah cerita yang lengkap. Tidak ada hidup yang sempurna. Yang tampak di media sosial hanyalah sisi yang ingin dilihat oleh orang lain.

Kecemasan dan ketakutan sangat rentan terjadi di era pandemi ini. Menghadapi situasi baru dan berbagai perubahan yang serba mendadak tanpa diketahui akhirnya bisa sangat frustasi bagi sebagian orang. Jika memang media sosial membuat Mama kian tertekan, tak mengapa mengambil jeda.    

Posting Komentar

0 Komentar