Kemampuan Apa yang Paling Penting Dikuasai Anak untuk Masa Depan?


Pernahkah Mama membayangkan dunia seperti apa yang akan dihuni anak-anak kita kelak? Benarkah di masa itu, anak-anak kita harus bersaing dengan robot-robot pintar? Kalau sekarang saja sudah banyak pekerjaan yang hilang karena tergantikan oleh komputer, lalu kemampuan apa yang paling penting harus dikuasai anak-anak kita?

Perkembangan teknologi bergulir begitu cepat. Hidup di tengah disrupsi teknologi menuntut kita untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Sebagai orangtua, kita ingin menyiapkan anak-anak menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman. 

Berbagai cara ditempuh oleh orangtua, misalnya mempelajari ilmu komputer sejak dini serta skill baru lain yang sekiranya diperlukan untuk menaklukkan masa depan. Tapi benarkah itu yang paling anak-anak perlukan? 

Yuval Noah Harari, sejarawan yang juga penulis buku best seller Sapiens, Homo Deus, dan yang terbaru 21 Lessons for the 21 st Century, dalam wawancaranya dengan CQ mengatakan, kemampuan manusia sebagai individu sangat terbatas untuk bisa membendung kemajuan teknologi. Semua orang harus bersiap dengan perubahan-perubahan besar yang sepertinya akan sering terjadi. 

"Yang paling penting ialah berinvestasi pada kecerdasan emosional dan keseimbangan mental karena tantangan terberatnya adalah psikologis," kata Harari.

Menurut Harari, perlu fleksibilitas mental untuk mengelola perubahan demi perubahan yang terjadi di masa mendatang. Remaja usia 20-an lebih bisa menghadapi perubahan ketimbang kelompok usia lainnya. Bagi orang berusia 40 atau 50 tahun, perubahan bisa menyebabkan stres. Oleh karena itu, fleksibilitas psikologi menjadi senjata paling penting untuk menghadapi perubahan.

"Investasi paling penting yang dapat dilakukan bukanlah mempelajari keterampilan tertentu, misalnya saya akan belajar coding, belajar Bahasa Cina atau semacamnya. Tidak, investasi terpenting sebenarnya ialah membangun pikiran atau kepribadian yang lebih fleksibel ini," tutur Harari.

Harari menyadari, tidak ada satu resep khusus yang bisa dijajal semua orang untuk bisa mencapai kepribadian semacam itu. Namun yang pasti, untuk bisa bertahan dari setiap pergolakan yang dibawa oleh gelombang perubahan, kita perlu mengenal diri sendiri dan mengembangkan fleksibilitas mental. 

Bagaimana menyiapkan anak-anak?

Mama tak perlu menyesal jika sudah membekali anak dengan belajar coding, komputansi, atau hard skill lainnya. Kemampuan tersebut tetap bermanfaat bagi anak-anak. Tetapi yang tak boleh dilupakan ialah pendidikan karakter atau soft skill. Pendidikan karakter itu penting untuk membentuk mental yang baik.


Apa saja sikap mental yang perlu diajarkan kepada anak? Mama bisa mengadopsi Good Citizenship's Five Themes dari Education World ini, yaitu:

Honesty (kejujuran)
Kejujuran adalah hal dasar yang harus diajarkan kepada anak, jujur kepada orang lain, jujur kepada dirinya sendiri.

Compassion (kasih sayang)
Sebuah bentuk emosi kepedulian terhadap orang lain dan makhluk hidup lainnya. Dengan kasih sayang, seseorang akan membentuk ikatan emosional dengan dunianya.

Respect (rasa hormat)
Rasa hormat ini tidak hanya ditujukan untuk orang lain, tetapi juga kepada benda atau gagasan, misalnya menghormati hukum. Rasa hormat juga mencakup penghargaan atau kekaguman atas gagasan orang lain.

Responsibility (tanggung jawab)
Meliputi tanggung jawab pribadi dan publik. Individu maupun kelompok mempunyai tanggung jawab. Tanggung jawab berkaitan dengan tindakan. Misalnya saja, tanggung jawab utama sebagai pelajar ialah belajar. Maka anak sebagai pelajar harus mendidik diri mereka sendiri sehingga mampu menggunakan potensi mereke sepenuhnya.

Courage (keberanian)
Keberanian menjadi kekuatan bagi seseorang untuk melakukan tindakan yang benar meskipun hal itu tidak populer, sulit, bahkan berbahaya. Banyak tokoh besar yang memberi contoh tentang keberanian mengubah aturan untuk mencapai keadilan, misalnya Mahatma Gandhi, Martin Luther King, dll.

Mengajarkan konsep-konsep ini tentu tak bisa sekadar menyampaikannya kepada anak. Mama perlu membantu anak untuk memahami konsep ini, misalnya dengan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Mama juga bisa mengajarkannya lewat tindakan-tindakan yang bisa dilakukan bersama dengan anak. Misalnya ikut menjadi sukarelawan, berpartisipasi pada program daur ulang sampah, mengikuti kegiatan amal, atau aktif dalam kegiatan yang bisa menolong sesama lainnya.

Konsep-konsep mental seperti ini sulit diganti oleh teknologi otomatisasi. Karakter lah yang berperan dalam membentuk kecerdasan emosional. Kemampuan menguasai teknologi bisa jadi akan mengantarkan anak-anak mendapatkan pekerjaan, tetapi kecerdasan emosionalnya yang akan menuntunnya melewati setiap gelombang perubahan di masa depan. 

Posting Komentar

0 Komentar