Kunci Layar Apa yang Paling Aman?

Kini pengguna smartphone punya beragam pilihan saat menggunakan kunci layar (lock screen). Mulai yang sederhana seperti kode sandi (passcode) sampai otentikasi biometrik. Lalu manakah yang paling aman?

Menggunakan kunci layar jelas lebih aman jika dibandingkan dengan tidak menggunakan fitur ini sama sekali. Bagi sebagian orang, fitur ini sudah sangat familiar. Tetapi ternyata, belum semua orang memanfaatkan kunci layar untuk mengamankan ponselnya. Laporan Pew Research Center, hampir sepertiga orang Amerika Serikat tidak menggunakan kunci layar jenis apapun.

Kunci layar penting sebagai benteng pertahanan satu-satunya yang melindungi aplikasi yang disetel login otomatis. Aplikasi semacam ini biasanya justru aplikasi yang paling sering digunakan. Misalnya email, media sosial, bahkan cloud. Agar tak berulang kali login setiap menggunakannya, aplikasi-aplikasi ini diatur login otomatis. Mengingatkan pada adagium di dunia digital, biasanya kenyamanan berbanding terbalik dengan keamanan.

Bayangkan jika ponsel kita berada di tangan orang yang tidak diinginkan. Tanpa kunci layar, orang tersebut dengan mudah masuk ke aplikasi-aplikasi tadi. Berapa kemungkinan apa yang bisa ia lakukan dengan ponsel kita? Mulai dari sekadar melihat-lihat data privasi, mencuri, bahkan menyebarkannya. Belum lagi jika ia melakukan penipuan atau tindak kejahatan lain atas nama kita. Sebuah bencana!

Semua kemungkinan itu bisa ditekan dengan menggunakan kunci layar. Kunci layar apa yang paling aman? Berikut penilaian ESET tentang keunggulan dan kelemahan masing-masing kunci layar

Kunci pola

Pengguna membuat pola khusus untuk membuka kunci perangkat. Kunci pola tergolong sebagai opsi keamanan tingkat menengah yang terbaik. Dengan usapan jari, pengguna bisa membuat pola berbentuk huruf atau pola lain yang lebih rumit. Semakin mudah pola, semakin mudah disalin oleh orang lain yang sengaja mengintip untuk menirunya.

Menurut penelitian, 64,2% kunci pola bisa ditiru hanya dengan sekali lihat. Dengan beberapa kali pengamatan, risiko itu akan semakin bertambah. Untuk meminimalisir risiko itu, pengguna bisa mematikan jalur umpan balik dan membuat pola yang lebih rumit. 

Dengan pertimbangan ini, penggunaan PIN atau kode sandi merupakan pilihan kunci layar yang lebih aman.

PIN/Kode sandi

Kode yang harus dimasukkan setiap kali pengguna mematikan dan menyalakan ponsel. Beberapa versi memungkinkan pengguna untuk membuat kode sebanyak empat digit. Tetapi bagi pengguna yang mengutamakan keamanan, biasanya akan memilih PIN yang lebih panjang.

Lebih aman lagi jika password setidaknya terdiri dari delapan karakter yang merupakan gabungan antara angka, huruf, dan karakter khusus.

Keamanannya bisa ditingkatkan dengan mengaktifkan fitur untuk menghapus data di ponsel setelah sejumlah upaya login yang gagal.

Sidik jari

Kunci layar menggunakan sidik jari masih terus dikembangkan. Yang paling mutakhir, kunci layar sidik jari diletakkan di layar ponsel cerdas. 

Kunci sidik jari dianggap sebagai cara yang paling cepat mengamankan ponsel. Hanya dengan meletakkan jari di pembaca sidik jari, maka ponsel akan langsung terbuka dalam waktu sepersekian detik.

Banyak orang percaya kunci biometrik ini tidak akan dibobol orang lain. Tetapi itu bukan sesuatu yang mustahil. Sidik jari bisa dicuri dari foto atau sumber lain kemudian dicetak ulang untuk digunakan melewati kunci biometrik. Tahun 2017, seorang peneliti keamanan bisa membuat ulang sidik jari Menteri Pertahanan Jerman dari foto-foto dengan resolusi tinggi.

Pemindaian wajah

Kunci biometrik ini bekerja dengan memindai wajah pemilik perangkat. Tampak seperti teknologi yang paling canggih ya, Mama. Pada dasarnya teknologi ini bergantung pada kamera depan dan beberapa perangkat lunak saja. Kamera memindai gambar wajah kemudian dengan algoritma pengenalan wajah akan memverifikasinya. Kecepatan membuka kunci bergantung pada ponsel dan kualitas kamera depan.

Meski tampak canggih, pelaku kejahatan bisa menipu dengan menggunakan foto wajah pemilik ponsel. Peneliti  melakukan tes pada 110 ponsek yang berbeda. Hasilnya ternyata tidak memberi gambaran yang bagus. Secara umum, menggununakan kunci biometrik sidik jari dikombinasikan dengan kode sandi adalah cara yang paling aman.

Fitur khusus merek

Berbagai merek smartphone menambah fitur khusus pada pengamanan biometrik untuk meningkatkan keamanan. Mulai dari tingkat pemindaian wajah hingga iris. Samsung misalnya, memiliki versi pemindaian irisnya sendiri. Ini juga mempertimbangkan pengguna yang berkacamata. Teknologi ini menggunakan LED inframerah untuk menerangi mata, sementara kamera fokus sempit menangkap pola iris. Smartphone kemudian memproses informasi tersebut. Wah canggih, ya? Apakah hal itu juga aman? Sayangnya, sistem ini pernah berhasil diretas oleh peretas white hat menggunakan kamera dengan inframerah.

Kesimpulannya, mana yang paling aman?

Pengguna kini mempunyai opsi kunci layar yang beragam. PIN dan kata sandi dengan kompleksitas yang cukup menjadi opsi yang paling aman. Diikuti oleh kunci sidik jari. Disarankan untuk tidak mengandalkan satu fitur saja. 

Apapun opsi kunci layar yang Mama pilih, itu sebuah keputusan yang lebih baik ketimbang mereka yang masih meremehkan fungsi kunci layar. Ini sebuah langkah cerdas untuk melindungi data-data di ponsel. 

Posting Komentar

0 Komentar