Membicarakan Tragedi dengan Anak, Tips untuk Orangtua

Setelah sebuah tragedi terjadi, misalnya saja bencana alam, kecelakaan besar, atau serangan teroris, orangtua berada pada situasi yang cukup sulit. Orangtua harus memutuskan informasi apa saja yang bisa dibagi kepada anak-anak. Sementara pada saat yang bersamaan, peristiwa tersebut menjadi berita utama di semua media. 

Penting bagi orangtua untuk memperhatikan usia dan perkembangan kemampuannya dalam menerima informasi ini. American Academy of Pediatrics (AAP) mendorong orangtua, guru, pengasuh, dan orang yang berkerja sama dengan anak-anak untuk menyaring informasi agar anak memahami dan mampu mengatasi situasi sulit ini. 

Ada beberapa tips yang bisa diikuti oleh orangtua saat berada pada situasi seperti ini. Tips ini disarikan dari beberapa sumber, diantaranya JAMA Pediatrics, American Academy of Pediatrics (AAP), dan Healthy Children.

Anak-anak semua usia 

Berapapun usia anak, biasanya mereka sudah mendengar sesuatu yang telah terjadi. Orangtua bisa memulainya dengan bertanya kepada anak, apa saja yang sudah mereka dengar. 

Setelah mendengarkan dengan seksama, selanjutnya orangtua bisa menanyakan, apakah masih ada hal-hal yang ingin mereka ketahui. Berikan jawaban yang jujur dan fokus pada informasi dasar. Tidak perlu berspekulasi pada apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seperti orang dewasa, anak-anak juga ingin memahami peristiwa yang sedang terjadi. Sampaikan informasi dasar, bukan detail grafis atau detail-detail yang tidak perlu tentang keadaan tragis ini. Hindarkan anak dari grafis, gambar, atau suara yang muncul berulang di televisi, radio, media sosial, dan lainnya.

Berapapun usia anak sebaiknya dialog berjalan lugas dan langsung. Penting bagi orangtua untuk membuat anak merasa aman. Sampaikan, Mama dan Papa akan selalu menemani dalam situasi sulit ini.

Anak-anak usia dini

Bagi anak usia dini, atau sekitar usia empat tahun atau lebih, menyaksikan berita tragedi bisa menakutkan. Lebih baik informasi itu disampaikan dengan mendiskusikannya bersama, bukan membiarkannya melihat dari berita media. 

Anak-anak usia ini biasanya mempunyai pertanyaan lebih tentang keamanan. Mereka ingin kepastian, apakah mereka benar-benar aman.

Pada situasi ini, anak-anak mungkin perlu bantuan memisahkan antara fantasi dengan kenyataan.

Pada situasi seperti ini, beberapa anak mungkin akan menjadi lebih lengket dengan Mama, ada juga yang mengalami kemunduran perilaku seperti misalnya mengompol atau mengisap jempol mereka. Mama perlu bersabar dan memberikan dukungan jika anak bereaksi demikian.

Anak yang lebih besar dan remaja

Agak sulit untuk mencegah agar anak dan remaja tidak terpapar berita media. Apalagi jika mereka sudah mempunyai gawai sendiri. Semua informasi bisa mereka akses dengan mudah. Maka itu akan lebih baik jika orangtua menemani mereka saat menonton berita. Bahkan jika memungkinkan, orangtua sudah melihat dulu berita tersebut sehingga bisa mengetahui secara pasti isi berita dan mana saja yang perlu didiskusikan dengan anak.

Pada usia ini, anak-anak biasanya menginginkan lebih banyak informasi, termasuk soal upaya pemulihan. Selain itu, mereka juga punya pendapat tentang kejadian tersebut. Bisa juga mereka punya saran agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Mereka juga punya keinginan untuk terlibat membantu korban. Berilah ruang untuk memfasilitasinya.

Anak berkebutuhan khusus

Orangtua perlu merespons sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan anak, bukan usia fisik mereka. Mulailah dengan memberikan sedikit informasi terlebih dahulu. Sampaikan informasi dengan jelas sehingga bisa dipahami dengan baik.

Kenyamanan anak merupakan hal utama, termasuk saat menenangkan dan menghibur mereka. Orangtua perlu mempertimbangkan temperamen, kepribadian, dan kemmpuan perkembangan anak. Sebagai contoh, tidak semua anak nyaman dengan pelukan. Misalnya anak dengan spektrum autisme yang tidak nyaman dengan pelukan perlu ditenangkan dengan cara lain yang bisa diterimanya.

Membangun rasa aman

Bersikaplah tenang. Tidak apa-apa jika anak melihat orang dewasa bersedih, tetapi jika emosi yang dirasakan terlalu intens, berusahalah berlapang dada.

Yakinkan anak-anak tentang keselamatannya. Jika diperlukan, tinjau kembali rencana keluarga untuk merespons keadaan darurat ini.

Pertahankan rutinitas. Cara ini untuk memberi anak rasa normal. Jaga rutinitas keluarga seperti makan malam, pekerjaan rumah, dan waktu tidur keluarga.

Habiskan waktu ekstra bersama. Langkah ini dapat menumbuhkan rasa aman pada anak. Dorong agar anak mau mengungkapkan perasaannya.

Lakukan sesuatu untuk membantu para penyintas dan keluarganya. Pertimbangkan apa saja yang bisa dilakukan oleh Mama dan keluarga untuk membantu.

Kenali tanda-tanda jika anak mengalami kesulitan

Sebagian anak mungkin tidak mudah menghadapi situasi sulit ini karena alasan tertentu. Ada beberapa tanda yang bisa diamati orangtua misalnya mengalami gangguan tidur, ada keluhan fisik misalnya merasa lelah, sakit kepala atau sakit perut, atau mungkin hanya merasa tidak enak badan. 

Anak juga bisa menunjukkan perubahan perilaku yang mungkin termasuk regresif, seperti bersikap tidak dewasa atau menjadi tidak sabar. Bisa juga mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi atau peningkatan kecemasan.

Tidak mudah mengetahui apakah hal ini reaksi anak atas sebuah kejadian buruk atau karena sebab lain. Jika Mama mengkhawatirkannya, bicarakan dengan dokter anak.

Meskipun ini situasi yang tidak mudah, berbicara dengan anak merupakan langkah terbaik sebelum mereka mendapatkan informasi dari luar sana yang belum bisa dipastikan kebenarannya.

Posting Komentar

0 Komentar