Kesehatan Mental Perempuan: Beban Ganda Kala Pandemi

kesehatan mental perempuan beban ganda kala pandemi

Perempuan, apapun profesinya, memikul beban ganda akibat pandemi Covid-19. Memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi sekaligus berkontribusi ekonomi. Kelelahan membuat kesehatan mental perempuan terganggu.

Profesinya sebagai aparatur sipil negara (ASN) membuat Fani (37) sering disangka tak kesulitan uang. Gaji dan tunjangan bulanan yang sudah dijamin pemerintah, seolah menjadi jaminan perekonomian keluarganya tidak terdampak pandemi. "Siapa bilang? Keuangan negara sedang sulit, tidak semua tunjangan cair. Tidak semua instansi pemerintah itu banyak uang. Banyak juga yang digaji rendah, padahal pekerjaan kami juga banyak," kata ibu seorang putra yang tinggal di Bandung ini kepada digitalMamaID pada pertengahan September lalu.

Meski selama pandemi ia bisa bekerja dari rumah, bukan berarti pekerjaannya berkurang. Dalam sehari, ia bisa mengikuti tiga bahkan lima pertemuan daring. Paling banyak ia pernah mengikuti tujuh sesi rapat lewat aplikasi Zoom. Jam kerjanya menjadi tidak jelas. Banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan pada malam hari. Seringkali ia masih menyelesaikan pekerjaan hingga nyaris pukul 22.00. Akhir pekan pu kadang masih harus digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. "Tidak ada kompensasi katika bekerja lebih panjang dari biasanya. Anggaran negara juga sudah banyak direalokasi untuk penanganan pandemi," ujarnya.

Tulang punggung keluarga

Fani kini menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Uang yang dijanjikan perusahaan belum cair, bahkan belum jelas bagaimana ujungnya. Gaji Fani menjadi satu-satunya sumber pendapatan keluarganya.

Saat ini yang ia bisa lakukan, memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Ketika orang gemar bercocok tanam, ia mulai berdagang berbagai kebutuhan berkebun. Usaha ini ia kerjakan di rumah, di sela-sela aktivitasnya yang sebenarnya sudah padat.

Selain bekerja, dia juga menemani anak semata wayangnya sekolah daring. Sebenarnya jam sekolahnya tidak panjang karena masih di bangku taman kanak-kanak. Meski begitu ada tugas-tugas yang harus diselesaikan. "Suka merasa bersalah karena akhirnya tugas anak dinomorsekiankan, dikerjakan ketika libur," ujarnya.

Menyelesaikan pekerjaan, mengurus suami dan anak, bahkan megurus usaha sampingan semua dilakoninya. "Perempuan itu capek, peran sebagai ibu, istri, pekerja. Capek sih sebenarnya," kata Fani. Kesehatan mental perempuan begitu rentan terganggu.

Manajer rumah tangga

Neneng (39) sudah lama merencanakan untuk mundur dari pekerjaannya sebagaitenaga pemasaran di sebuah perusahaan media. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari ia sudah merintis usaha sendiri. Ia menjual baju yang didesain sendiri.

"Karena masih butuh gajinya, masih ada tanggungan cicilan, jadi ya sudah bekerja terus meski situasi kantor sudah mulai goyah," katanya.

Pandemi membuat kondisi memburuk lebih cepat. Neneng masuk dalam daftar karyawan yang dirumahkan. Meski berhenti bekerja adalah bagian dari rencananya, tapi kabar ini tetap mengejutkan. Ia tak menyangka semua terjadi secepat ini. Suaminya yang bekerja sebagai desainer lepas juga mengalami dampak pandemi. Banyak proyek yang ditunda. "Rasanya mau membuat rencana pun sulit karena uang dari perusahaan belum diterima. Berdagang pun situasinya masih seperti ini," ucapnya.

Pandemi membuatnya harus menutup toko baju yang ia sewa di sebuah sentra niaga di Bandung. Pemasukan yang menurun drastis tak cukup membiayai operasional toko. Menutup toko dirasa sebagai keputusan terbaik. Penjualan online lewat market place kini jadi tumpuan. Usaha yang semula menjadi penghasilan tambahan, kini dikelola lebih serius. Tabungannya yang terus menipis tak bisa dibiarkan terus mengingat kebutuhan hidup terus berjalan.

Sebagai manajer keuangan rumah tangga, Fani harus melakukan banyak penyesuaian. Agenda liburan dicoret, anggaran untuk nongkrong atau jajan dipangkas, kebutuhan yang tidak mendesak harus direlakan. Sebisa mungkin pengeluaran ditekan, penghasilan ditambah.

Nenang memberanikan diri mengeluarkan produk baru. Ini cara yang bisa ia lakukan untuk mendongkrak penjualan. "Alhamdulillaah, hasilnya lumayan. Tapi tantangannya luar biasa. Saya mengerjakan semua di rumah, anak yang sebelumnya terbiasa melihat ibunya bekerja di kantor, begitu melihat ibunya di rumah disangkanya libur. Akhirnya anak nempel terus, bahkan ke toilet saja diikuti," tutur ibu dua anak ini.

Ia seperti tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Jika sudah kelelahan, ia terpaksa membiarkan anak-anaknya asyik bermain dengan gawai. Ia tahu itu bukan keputusan yang bijak, tapi ia tak menemukan cara lain yang ampuh untuk mencuri waktu untuk dirinya sendiri. Kadang ia menonton tayangan favori, kadang menelepon teman untuk sekadar ngobrol, atau tidur. Kegiatan sederhana itu sudah cukup menjaga kewarasannya.

Sandwich generation

Cerita berbeda dialami Neysa (37), seorang ibu yang tingga di Tangerang. Di tengah kelesuan ekonomi akibat pandemi, ia justru bisa bekerja lagi. Jika sebelumnya ia mendedikasikan diri sebagai ibu rumah tangga, kini ia justru bekerja lagi. Pekerjaan itu bisa dikerjakan dari rumah, sebuah kemewahan di masa pandemi ini. Urusan rumah tangga dibagi dua dengan suami. Tempat kerja suaminya masih memberlakukan work from home (WFH) sehingga bisa bahu-membahu berbagi tanggung jawab.

Urusan rumah tangganya bisa dibilang beres. Namun, pandemi ini menjadikannya sandwich generation. Ia tak hanya memenuhi kebutuhannya sendiri, tapi juga mendukung keberlangsungan hidup orangtuanya yang tinggal di Surabaya.

"Orang tua saya kebetulan masih punya income setelah pensiun. Mereka punya usaha bimbingan belajar dan PAUD. Sebelum pandemi saya tidak pernah mengirimkan uang. Setelah pandemi, income dari usaha tersebut anjlok. Walaupun mereka tidak pernah meminta, saya dengan kesadaran sendiri menganggarkan untuk kirim uang setiap bulan sekadar untuk bantu-bantu biaya sehari-hari," tuturnya.

Beberapa waktu lalu, ibunya dinyatakan positif Covid-19. Ayahnya juga sempat memerlukan perawatan setelah terjatuh dari kamar mandi. Situasi ini tentu tidak mudah bagi orangtuanya. Neysa tahu, urusan kesehatan mental bukan monopoli orang usia produktif. Orang tua juga bisa mengalamai kelelahan mental.

"Saya bikin Whatsapp group yang isinya hanya saya, ibu, dan bapak. Saya tulis di grup itu: bapak dan ibu boleh curhat apapun, minta bantuan moril atau materiil, minta dikirimin makanan atau apa saja, insyaallah saya bantu jika bisa. Efeknya, hubungan saya dan orangtua malah jadi lebih dekat daripada sebelumnya," tuturnya.

Pilih mundur

Tidak semua perempuan kuat memikul beban ganda. Mencari nafkah sekaligus menanggung beban domestik menyebabkan kesehatan mental perempuan terganggu. Mereka kelelahan harus bekerja nyaris 24 jam sehari.

"Hasil penelitian terakhir bersmaa Pokja Pengarusutaman Gender, si ibu banyak yang memilih untuk berhenti bekerja karena tidak kuat harus bekerja nyaris 24 jam. Beban berlebih ini akhirnya jadi banyak yang merasakan persoalan kesehatan mental," kata Koordinator Sapa Institute Sri Mulyati.

Sapa Institute merupakan lembaga pendampingan perempuan yang berada di Kabupaten Bandung. Perempuan dampingan Sapa Institute mayoritas tinggal di pedesaan dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Di tengah kondisi ekonomi yang terganggu akibat pandemi, banyak perempuan yang melepaskan pekerjaannya demi keberlangsungan rumah tangga. "Kalau dibiarkan, akan semakin banyak perempuan yang tidak lagi mandiri ekonomi," katanya.

Urusan ekonomi ini bisa berdampak panjang. Dari kasus-kasus yang didampingi Sapa Institute, faktor ekonomi menjadi alasan paling banyak perempuan mengajukan gugatan cerai. Memang ini bukan situasi yang tiba-tiba.

"Sebenarnya kasusnya sudah lama. KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) sudah lama terjadi, memuncak ketika pandemi. Kalau tadinya cekcok karena selingkuh, rata-rata masih bisa bertahan. Begitu pandemi, ditambah persoalan ekonomi. Jadi semakin berani (untuk mengajukan cerai)," kata Sugihartini, relawan pendamping kasus Sapa Institute.

Sapa Institute memberi layanan konseling dan pendampingan bagi perempuan korban KDRT untuk mengajukan gugatan cerai. Layanan ini sementara ditutup karena jumlah yang mengakses layanan ini sudah melebihi kapasitas.

Situasi saat ini membuat keadaan kian pelik bagi perempuan. Berada di rumah terus-menerus dalam pernikahan yang tidak sehat adalah siksaan. Trauma psikologis akibat KDRT membuat mereka memutuskan untuk berpisah dengan pasangan. Meskipun mereka harus menghadapi kebingungan karena harus mencari nafkah sendiri. "Cari kerja susah, untuk usaha perlu modal. Sementara rata-rata mereka tidak punya dukungan keluarga," ujarnya.

Sugiharti mengatakan, masih banyak yang belum memiliki kesadaran pentingnya kesehatan mental. Mereka tidak tahu pada siapa bisa meminta pertolongan ketika sudah terhimpit situasi. "SAPA punya komunitas Bale Istri, tapi belum ada di semua kecamatan di Bandung. Kalau ada Bale Istri kesadaran kesehatan mentalnya lebih baik. Kalau yang tidak ada, mereka masih kebingungan harus kemana mencari bantuan. Sedangkan pendampingan pemerintah aksesnya kurang," tuturnya.

Pemimpin perempuan

Dalam sebuah seminar daring yang diadakan Jurnal Perempuan bulan lalu, Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Maya Juwita mengatakan, pandemi berdampak pada pekerja kerah putih maupun biru. Meski studi menunjukkan bekerja dari rumah bisa menguntungkan bagi perempuan, pola kerja ini masih sulit dilakukan. Hal itu karena perempuan memikul beban ganda. Selain bekerja, mereka tetap harus menyelesaikan pekerjaan domestik.

IBCWE bahkan menerima laporan ada pengusaha yang kehilangan 5.000 pekerja perempuan. Mereka berhenti karena tak bisa terus bekerja dan pada waktu yang sama harus mengurus semua urusan rumah tangga juga.

"Memasuki tahun 2021, maslaah lain mengintai, yaitu kesehatan mental. Kerja dari rumah yang terus-menerus membuat perempuan lelah secara mental," tuturnya.

Irma mengatakan, salah stau solusinya ialah mendorong lebih banyak perempuan menjadi pemimpin. Harapannya, mereka lebih sensitif dengan kebutuhan perempuan. "Mendorong pemimpin untuk lebih empati," ujarnya.***



Liputan ini merupakan bagian dari program fellowship untuk jurnalis perempuan Citradaya Nita 2021 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). digitalMamaID menjadi kolaborator peliputan tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap kesehatan mental perempuan. Tulisan lainnya bisa dibaca di sini.

Posting Komentar

0 Komentar