Mimpi Buruk Kamar Bersalin

 

Dear Mamamin,

Aku ingin berbagi soal kedongkolan hati yang terpendam bertahun lamanya. Dari dulu ingin menulis ini, biar orang ngerti gitu bahwa ada hal mengerikan yang dialami oleh banyak perempuan yang berjuang di kamar bersalin.

Aku tidak sedang bicara tentang rasa sakit saat kontraksi pada saat bertambahnya pembukaan loh ya. Mules dan sakit meregang nyawa itu, seolah tidak cukup. Ada hal lain yang harus ditanggung para perempuan.

Aku harus bikin disclaimer dulu nih. Bisa jadi, yang kuceritakan berikut (apesnya) hanya terjadi padaku, (mungkin) bisa juga faktor fasilitas kesehatan yang dipilih saat lahiran (jenis asuransi, paket melahirkan, dan kelas rumah sakit) mempengaruhi apa yang terjadi di kamar bersalin.

Sudah ada clue belum, mamamin apa yang mau kuceritakan?

Masih belum?

Ok, aku lanjut ya..

Ini tentang apa yang dikatakan oleh para nakes ketika para Ibu berjuang melawan sakit di kamar bersalin atau ruang VK.

Yang kuingat, ketika aku melahirkan 5 tahun lalu, aku berada di ruang VK nyaris 24 jam. Air ketubanku pecah duluan jam setengah 10 malam. Sejam kemudian, aku sudah ada di kamar bersalin. Petugas yang memeriksaku mengatakan, aku masih bukaan 1. Namun, karena ketuban pecah, jelas doong gak boleh jalan-jalan untuk nunggu sampai bukaan 10 (Apa ya istilah medis untuk proses ini?). Aku diminta rebahan aja sembari menunggu waktu si bayi ingin keluar dari tempat nyamannya.

Ternyata, nyaris 20 jam aku ada di ruangan tersebut. Anakku lumayan betah di perut, gak segera keluar meski aku sudah diberi obat untuk memancing kontraksi.

Ada beberapa bilik persalinan, dan beberapa perempuan yang silih berganti menjalani proses lahiran, selama aku di sana.

Di tengah kesakitan yang sesekali datang, aku mendengar teriakan-teriakan “rekan seperjuangan”. Mereka teriak karena tidak tahan dengan rasa sakit kala kontraksi (ya iyalah sapa juga yang tahan).

Nah ini, Min poin yang mau kuceritakan… aku tahu, ruangan memang menjadi berisik dengan teriakan, tapi masa iya itu menjadi pembenar dari ujaran merendahkan martabat yang dengan enteng keluar dari mulut para tenaga kesehatan itu. Ucapan yang terekam di otakku diantaranya, “Gak usah teriak, Bu. Wong bikinnya diem-diem sekarang kok teriak-teriak” atau kadang juga begini, “Pas bikin aja ya enaknya, Bu? Kalau gini baru kerasa sakitnya.”

Should they said something that hurt us more? 

Mamamin, apa ini gak termasuk perundungan ya? sumpah aku mangkel banget dan penuh amarah kalau ingat peristiwa itu.

Pernah aku membahas ini dengan beberapa teman. Kupikir hanya aku yang mengalami, dan aku perlu berbagi amarah dengan mereka. Ironisnya, teman-temanku bilang kalau itu mereka alami juga saat melahirkan anaknya. Sementara, kawan pria yang ikut nimbrung malah berpendapat itu hal yang lumrah. Apa yang dilontarkan para nakes itu sebagai suatu cerminan masyarakat kita, dan aku tidak perlu reaktif menyikapinya.

Cerminan masyarakat kita ya?

Masyarakat yang misoginis, yang sangat jahat pada perempuan, tidak memiliki empati pada Ibu yang sedang berjuang menghantar sebuah kehidupan baru.

Masyarakat yang lisannya terbiasa merendahkan para perempuan.

Apa iya, mamamin.. kita berada di tengah kultur yang demikian?

Boleh dong kalau demikian kita melakukan upaya bersama memperbaiki kondisi itu.

Sehingga, gak perlu lagi ada perempuan yang merasa malu, rendah, tidak nyaman, atau sakit hati ketika mereka melawan maut di dipan persalinan.

Sekian dulu curhatku ya, Mamamin.

Makasih banyak.

Xoxo,

Putri 



Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital, baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email digitalmamaid@gmail.com dengan subyek [Tanya digitalMama]!

Posting Komentar

0 Komentar