Bullying yang Melukai Anak, Lakukan Cara Jitu Ini untuk Menghindarinya

cara menghindari bullying

Mama, tanpa kita sadari bullying dalam keluarga sering terjadi. Misalnya saja, saat Mama memanggil si kecil dengan sebutan si hitam, si cengeng, anak nakal, si pendek, si susah diurus dan lain sebagainya.

Perkataan-perkataan seperti itu bukan hanya bisa melukai perasaan anak, melainkan juga bisa membuat buah hati kita menjadi pelaku bullying di kemudian hari. Di usianya yang masih memerlukan pendampingan dan bimbingan dari orangtua, mereka seharusnya selalu berada dalam lingkungan yang baik sebagai penunjang untuk tumbuh kembangnya.

Perlu Mama ketahui, anak-anak adalah peniru ulung baik dalam perbuatan yang dilihatnya maupun dalam perkataan yang didengarnya. Lalu, bagaimana sih caranya agar Mama tidak terjebak dalam tindakan tersebut? 

Sebelum itu, Mama perlu mengetahui apa itu bullying. Dilansir dari laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bullying (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penindasan/risak) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

Kasus bullying di Indonesia

Bullying bisa dilakukan di mana saja, seperti di lingkungan keluarga, sekolah, media sosial, dan tempat kerja. Bullying sendiri dapat dikelompokkan menjadi enam kategori, di antaranya, kontak fisik langsung, kontak verbal langsung, perilaku non verbal langsung, perilaku non verbal tidak langsung, cyber bullyingdan pelecehan seksual.

Bullying  berdampak bukan hanya kepada korban saja, melainkan pelaku juga. Dampak bullying kepada korban bisa membuat korban menjadi depresi, rendahnya rasa percaya diri, muncul perasaan yang tidak biasa dan tidak percaya kepada orang lain. Sementara, dampak terhadap pelaku seperti tidak memiliki rasa empati terhadap orang lain, berpikir bullying adalah hal yang biasa dilakukan dan cenderung membuat pelaku menjadi lebih agresif.

Kasus bullying di Indonesia masih sering terjadi, terutama di lingkungan sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang tahun 2021 terdapat 17 kasus yang melibatkan peserta didik dan pendidik.

KPAI dalam kurun waktu 9 tahun, dari 2011 sampai 2019, menerima sebanyak 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk bullying di lingkungan pendidikan dan sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat.

Sementara, perlindungan terhadap anak sendiri sudah diatur dalam pasal 9 Undang Undang nomor 35 tahun 2014 dalam ayat (1a) yang menyatakan setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan atau pihak lain.

Tips menghindari bullying

Rini Susanti Minarso, psikolog di Cirebon, membagikan kiat-kiat agar Mama dan si kecil tidak menjadi pelaku dan korban bullying, antara lain:

1. Jangan biarkan terjadi komunikasi yang tidak sehat dalam keluarga.

Anak-anak dalam keluarga yang tidak harmonis cenderung mendapatkan pola komunikasi yang hanya bersifat searah. Orangtua sangat dominan dalam mengatur perilaku anak. Sehingga, anak tidak memiliki kesempatan menceritakan masalah yang dialami. Mereka sering tidak mampu mengekspresikan emosi sesuai yang seharusnya dilakukan dan akhirnya mencari obyek lemah sebagai sasaran emosinya

2. Jangan biarkan anak membentuk hubungan yang tidak sehat dengan siapa pun, baik di rumah maupun di luar rumah.

Anak-anak dalam lingkungan keluarga yang membiarkan anak bersikap negatif cenderung akan membawa perilaku tersebut ke luar rumah. Misalnya, orangtua yang menganggap kejahilan sebagai lelucon akan membuat anak beranggapan menjahili orang lain itu sesuatu yang baik. Soalnya, anak tersebut mendapatkan reward berupa tepuk tangan dan tawa dari semua orang. Sehingga, ia akan mengulangi hal tersebut kepada orang lain untuk mendapatkan kepuasan yang sama.

3. Ajarkan anak berempati, toleransi, dan menghargai perbedaan. 

Anak yang sedari kecil memahami hal ini akan lebih mudah beradaptasi dengan hal-hal berbeda yang mungkin ia temui di luar rumah.

4. Penuhi anak dengan kasih sayang dan perhatian. 

Anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua lebih memiliki kasih sayang terhadap orang lain.

5. Hindarkan anak dari berita atau tayangan yang mengandung unsur kekerasan. 

Sebaiknya orangtua lebih bijak dalam memberikan tontonan kepada anak sesuai usianya. Tidak boleh memberikan tontonan yang menunjukkan hal negatif apalagi sampai adanya unsur kekerasan.

“Yang terpenting, orangtua adalah role model. Anak cenderung akan selalu meniru perilaku orangtua, sehingga hal terbaik adalah bagaimana orangtua mampu menerapkan kelima poin tersebut dalam kehidupannya sehari-hari,” jelas Rini.

Posting Komentar

0 Komentar