Content Creator Perlu Tahu Lima Hal Ini Agar Tidak Blunder

Content creator jadi pekerjaan yang diincar banyak orang saat ini, tetapi ini bukan hal mudah, lho! Platform digital semakin banyak, pembuat konten semakin banyak, netizen juga semakin beragam. Belakangan banyak konten viral justru karena mengundang kemarahan netizen. Bagaimana ya agar tidak blunder saat membuat konten di media sosial?

Menjadi content creator terkesan mudah karena hanya membuat konten di media sosial bisa mendapatkan uang yang banyak. Oh, tunggu dulu! Jadi content creator itu tidak gampang. Banyak lho konten yang justru mendatangkan masalah bagi si pembuatnya. Misalnya belakangan ada video Tiktok tenaga kesehatan yang viral karena membicarakan pasiennya. Bukannya mendapat pujian, ia justru ditindak oleh rumah sakit dan kampus tempatnya belajar. Video yang ia buat dianggap melecehkan pasiennya.

Kejadian semacam ini bukan kali pertaa terjadi. Apakah masih ingat seorang dokter laki-laki yang juga viral gara-gara membuat video tentang reaksinya saam membantu pasien bersalin? Ia sampai harus kehilangan karir yang baru saja dijalani.

Ada pula konten-konten yang menantang bahaya. Demi mengikuti challenge di media sosial yang sedang hype, seseorang bahkan tidak mempertimbangkan keselamatan dirinya dan orang lain. Video tentang orang-orang yang memberhentikan truk yang sedang melaju banyak beredar belakangan ini.

Eksekutif Direktur ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengatakan, media sosial telah memunculkan banyak selebriti baru. Ada selebtwit yang lahir dari Twitter, selebgram dari Instagram, kini lahir pula selebtiktok, tiktoker yang viral di Tiktok, dan sebagainya. "Seleb-seleb yang terkenal secara instan," ujarnya.

Keberhasilan tersebut yang mendorong banyak orang untuk melakukan apa saja agar terkenal di platform sosial media. "Ada yang dengan pakaian seksi, konten serba tidak jelas, menulis komentar jahat ke selebriti untuk mendapat perhatian. Semua dilakukan demi #fyp (for your page), demi viralitas," katanya.

Indriyatno menyampaikan lima hal yang harus dijadikan pegangan saat membuat konten di media sosial.

Ingat: apa yang buruk di dunia nyata, sebaiknya tidak dilakukan di dunia maya

Tanyakan pada diri sendiri, apakah kata-kata atau teks yang dibuat pantas diucapkan jika di dunia nyata? Jika tidak, urungkan niat untuk mengunggahnya di dunia maya. Netizen di balik layar gawai adalah manusia sama seperti kita.

Menjaga data pribadi

Konten yang dibuat tidak boleh melanggar data pribadi orang lain. Data pribadi harus dilindungi. Apapun pekerjaan yang dilakoni, pastikan menjga data pribadi orang lain. Apalagi kalau bekerja di sektor layanan jasa, seperti tenaga kesehatan, layanan perbankan dan keuangan, perhotelan dan pariwisata, dan lainnya. Lindungi data customer atau pengguna layanan.

Jangan asal ambil gambar orang lain untuk diupload di media sosial

Kultur menjaga data pribadi memang belum tumbuh baik. Itu sebabnya banyak konten yang tidak memburamkan wajah orang lain di kontennya. Bahkan banyak yang mengambil gambar diam-diam di tempat publik untuk dijadikan konten. Di Eropa, kata Indriyanto, kesadaran tentang hal ini sudah lebih baik. "Ada pengalaman saudara, dia hanya memotret tas orang karena tertarik dengan tas itu. Dia didatangi suaminya, mereka keberatan difoto sembarangan. Setelah ditunjukkan hasil foto tidak ada gambar mukanya, baru diperbolehkan," tuturnya.

Waspadai FOMO

Takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) ini sering membuat orang jadi tidak berpikir matang saat mengunggah sesuatu. Tidak semua challenge harus diikuti, tidak semua tren di internet perlu ditiru. Pikirkan keselamatan diri juga orang lain. Pikirkan kembali, apakah ini pantas dilakukan?

Tantangan: informatif sekaligus menarik

Inilah yang membuat menjadi content creator itu sulit. Banyak content creator yang membuat konten yang penting untuk diketahui banyak orang. Sayangnya, pengemasannya tidak cukup menarik perhatian. "Membuat konten perlu mengombinasikan antara informasi dengan kemasan yang lucu, yang menghibur," katanya. Jika tidak menarik, konten bagus akan sulit viral. Di lain sisi, jika konten tidak cukup informatif, banyak orang menjajal jalur sensasi agar viral.

Media sosial memang menghadirkan banyak hal baru, termasuk memberi peluang untuk tenar dan meraup uang besar. Tapi coba deh dipikir kembali, masa iya mau viral dari jalur blunder sih?

Posting Komentar

0 Komentar